SHALAT TEMPAT BERDOA

Pertanyaan:
Izin bertanya Ustadz,
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

“Keadaan seorang hamba yang paling dekat dengan Rabb-nya adalah ketika ia sedang sujud, maka perbanyaklah doa.”
Berkaitan dengan hadits tersebut Ustadz, apakah kita dianjurkan memperbanyak doa ketika sujud secara mutlak dalam shalat atau khos di sujud yang terakhir berdasarkan dalil yang lain? Dan bagaimana Ustadz jika seseorang ketika sujud atau rukuk membaca doa sujud dan rukuk akan tetapi lebih dari tiga atau menggantinya dengan doa-doa sujud dan rukuk yang lain sebagaimana yang telah ma’ruf, mohon jawabannya Ustadz, Jazakallahu khairan.

Jawaban:
Kita dianjurkan untuk memperbanyak doa di dalam sujud secara mutlak, kecuali kalau keberadaan kita sebagai ma’mum atau imam maka kita melihat pada keadaan. Kalau kita sebagai ma’mun maka panjang dan pendeknya sujud kita tergantung pada sujudnya imam, jika kita sudah baca dzikir sujud yang lafazhnya:

سُبحَانَ رَبي الأَعلَى

“Maha Suci Rabbku Yang Maha Tertinggi.”
Ini wajib membacanya sekali, kalau imam belum bangkit dari sujudnya maka kita tambahkan membacanya dua atau tiga kali dan itu sunnahnya. Kalau ternyata imam masih belum bangkit dari sujudnya maka hendaklah kita manfaatkan anjuran mutlak untuk berdoa di dalam sujud hingga imam bangkit dari sujudnya. Apabila imam sudah bangkit dari sujudnya maka wajib untuk langsung ikut bangkit meskipun belum berdoa, karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah katakan:

إنمَا جُعِلَ الإمامُ ليُؤتَمَّ بهِ فَلا تَختلِفوا عَلَيهِ

“Sesungguhnya dijadikan imam itu untuk diikuti padanya, maka janganlah kalian menyelisihinya.”
Pada akhir hadits dengan lafazh:

وَإذَا سَجَدَ فَاسجُدوا وَلا تَسجُدوا حَتى يَسجُدَ

“Dan jika imam sujud maka sujudlah kalian dan janganlah kalian sujud hingga dia sujud.”
Demikian pula kalau kita sebagai imam maka tidak dibenarkan di dalam sujud memperbanyak berdoa karena sujud akan menjadi lama atau akan menjadi panjang sedangkan Nabiurrahmah ‘Alaihish Shalatu was Salam telah katakan:

إذَا صَلَّى أحَدُكم لِلناسِ فَليُخفِّفْ؛ فَإنَّ فيهمُ الضَّعيفَ والسَّقيمَ والكَبيرَ، وإذا صَلَّى لِنَفْسِه فليُطوِّلْ مَا شاءَ

“Jika salah seorang di antara kalian shalat dengan mengimami orang lain maka hendaklah meringankan, karena sungguh ada pada mereka orang lemah, orang sakit dan orang tua renta. Apabila seseorang shalat mengimami dirinya sendiri maka hendaklah dia memanjangkan sesukanya.”
Orang yang shalat sendirian tatkala sujud maka dianjurkan baginya untuk memperbanyak berdoa setelah mengucapkan dzikir:

سُبحَانَ رَبي الأَعلَى

“Maha Suci Rabbku Yang Maha Tertinggi.”
Dzikir ini diucapkan di dalam shalat wajibnya sekali, dan sunnahnya tiga kali. Setelah mengucapkan tiga kali dzikir tersebut maka dianjurkan memperbanyak berdoa, baik itu doa yang lafazhnya dari Al-Qur’an yang seseorang mengucapkannya dengan maksud berdoa atau pun doa yang dari As-Sunnah atau kalau seseorang bisa menyusun doa sendiri dengan lafazh-lafazh bahasa Arab maka hendaklah dia berdoa dengannya, berkata Nabiuttaubah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

وَأَمَّا السُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا فِي الدُّعَاءِ فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ

“Adapun sujud maka bersungguh-sungguhlah kalian dalam berdoa, karena itu lebih dikabulkan doa kalian.”
Sebagian orang memahami berdoa di dalam shalat itu hanya saat sujud saja, padahal tidak hanya di saat sujud, namun di saat berdiri, di saat ruku’ dan di saat duduk termasuk pula disunnahkan berdoa, berkata ‘Auf bin Malik Al-Asyja’i Radhiyallahu ‘Anhu:

قُمْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً فَقَامَ فَقَرَأَ سُورَةَ الْبَقَرَةِ لَا يَمُرُّ بِآيَةِ رَحْمَةٍ إِلَّا وَقَفَ فَسَأَلَ وَلَا يَمُرُّ بِآيَةِ عَذَابٍ إِلَّا وَقَفَ فَتَعَوَّذَ

“Aku shalat lail bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada suatu malam, beliau berdiri shalat lalu beliau membaca surat Al-Baqarah, tidaklah beliau melewati suatu ayat tentang rahmat melainkan beliau berhenti lalu meminta (rahmat Allah), dan tidaklah beliau melewati suatu ayat tentang azab melainkan beliau berhenti lalu berlindung (kepada Allah dari azab).”
Di saat ruku’ pun termasuk Sunnah berdoa di dalamnya, berkata Ash-Shiddiqah bintu Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘Anhuma:

كان رسولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَليه وَسلَّم يُكثِرُ أن يَقولَ في رُكوعِه وَسُجودِه: سُبحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنا وبحَمْدِك، اللَّهُمَّ اغفِرْ لي

“Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memperbanyak berdoa di dalam ruku’ dan sujudnya: “Maha Suci Engkau ya Allah Rabb kami dan dengan memuji-Mu ya Allah berilah ampunan kepadaku.”
Demikian pula di saat duduk termasuk dari Sunnah adalah berdoa, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di saat duduk di antara dua sujud beliau berdoa dengan doa:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَارْحَمْنِي وَاهْدِنِي وَعَافِنِي وَارْزُقْنِي

Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah diriku, berilah petunjuk kepadaku, limpahkanlah kesehatan kepadaku, dan berilah rezeki kepadaku.”
Demikian pula duduk tasyahhud, termasuk dari Sunnah memperbanyak berdoa setelah membaca shalawat sebelum salam, dan berdoa kepada Allah dengan meminta perlindungan dari empat perkara: Berlindung dari azab Jahannam, dari azab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian dan dari fitnah Al-Masih Ad-Dajjal, yang lafazhnya:

اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِكَ مِن عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ القَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ المَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ المَسِيحِ الدَّجَّالِ

“Ya Allah sungguh aku berlindung kepada-Mu dari azab Jahannam, dari azab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian dan dari fitnah Al-Masih Ad-Dajjal.”
Dan banyak doa-doa yang telah diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk dibaca saat duduk tasyahhud akhir sebelum salam, datang suatu riwayat dari Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘Anhu, beliau meminta kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk mengajarkan kepadanya doa, beliau pun mengajarkan doa. Dan Al-Bukhari membuatkan bab, beliau katakan:

بَابُ الدُّعَاءِ قَبْلَ السَّلام

“Bab doa sebelum salam.” Kemudian beliau menyebutkan di antaranya hadits dari Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘Anhu yang lafazh doanya:

اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِي إِنَّك أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Ya Allah sungguh aku telah menzhalimi diriku dengan kezhaliman yang banyak, dan tidak ada yang mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau, maka berilah ampunan kepadaku dengan ampunan dari sisi-Mu, dan rahmatilah aku, sungguh Engkau adalah Al-Ghafur (Maha Pengampun) lagi Ar-Rahim (Maha Penyayang).”
Juga hadits dari Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘Anhu yang Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkannya suatu doa untuk beliau ucapkan di penghujung shalat sebelum salam:

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Ya Allah tolonglah aku untuk berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu dan memperbaiki peribadahan kepada-Mu.”
Ini menunjukkan kepada kita bahwa di dalam shalat terisi dengan anjuran berdoa dan lebih khusus lagi di saat sujud, dianjurkan untuk memperbanyak berdoa dan tidak hanya sujud terakhir namun pada keseluruhan sujud terdapat anjuran untuk memperbanyak berdoa.

[Abu Ahmad Al-Khidhir Ghafarallahu Lahu wa Radhiya ‘Anhu pada khutbah Jum’at (23 Ramadhan 1447 / 13 Maret 2026) di Masjid Muti’ah Bogor].

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/13736
⛵ https://whatsapp.com/channel/0029Vb15hbQD8SDy7cwy460C/1932