WAKTU MAGHRIB DAN BERBUKA PUASA ITU DI SAAT MATAHARI TENGGELAM
Pertanyaan:
Apakah benar berbuka puasa ketika adzan maghrib itu membatalkan puasa? Kata Kyai Mahrûs ‘Alî: “Tidak boleh berbuka ketika mendengarkannya. Bila berbuka maka sia-sia puasanya. Di akhirat tidak mendapat pahala puasa dan termasuk orang yang meninggalkan puasa Ramadhân seluruhnya bila terus berbuka puasa ketika adzan maghrib.”
Jawaban:
Sungguh penentuan masuknya waktu maghrib dan waktu berbuka puasa adalah dengan tenggelamnya matahari. Dan kaum muslimin berbuka puasa dengan patokan adzan maghrib karena adzan maghrib itu tidak boleh dikumandangkan kecuali setelah tenggelamnya matahari. Jadi ketika ada muadzin yang adzan belum masuk waktu maghrib yakni belum tenggelam matahari maka adzan tersebut tidak boleh dijadikan patokan untuk berbuka puasa, karena patokan untuk berbuka puasa itu ketika tenggelamnya matahari sebagaimana patokan adzan ketika maghrib yaitu dengan tenggelamnya matahari, Al-Imâm Al-Bukhârî dan Muslim meriwayatkan dari Salamah Ibnul Akwa’ Radhiyallâhu ‘Anhu:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي الْمَغْرِبَ إِذَا غَرَبَتِ الشَّمْسُ
“Bahwasanya Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam shalat maghrib ketika telah tenggelam matahari.”
Dan Al-Imâm An-Nawawî Rahimahullâh membuat bâb khusus di dalam “Shahîh Muslim”:
بَابُ بَيَانِ أَنَّ أَوَّلَ وَقْتِ الْمَغْرِبِ عِنْدَ غُرُوبِ الشَّمْسِ
“Bâb tentang penjelasan bahwa awal waktu maghrib adalah ketika tenggelam matahari.”
Dengan demikian jelaslah bahwa tenggelamnya matahari merupakan waktu masuknya maghrib, demikian pula sebagai penentuan waktu berbuka puasa, Al-Imâm Al-Bukhârî dan Muslim meriwayatkan dari ‘Abdullâh bin Abî Aufâ Radhiyallâhu ‘Anhu:
كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ، وَهُوَ صَائِمٌ، فَلَمَّا غَرَبَتِ الشَّمْسُ قَالَ لِبَعْضِ الْقَوْمِ: يَا فُلاَنُ قُمْ، فَاجْدَحْ لَنَا
“Kami pernah bersama Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam dalam suatu safar, sedangkan beliau berpuasa, tatkala matahari telah tenggelam maka beliau berkata kepada sebagian kaum: “Wahai Fulân berdirilah kamu, lalu tuangkan air untuk kami.”
Lalu Fulân tersebut mengusulkan:
لَوْ أَمْسَيْتَ
“Kalau engkau menunggu waktu sore berlalu.”
Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam tidak menerima usulannnya, bahkan Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam tetap memerintahkan kepadanya:
انْزِلْ، فَاجْدَحْ لَنَا
“Turunlah kamu lalu tuangkan air untuk kami.”
Lalu Fulân tersebut mengatakan lagi:
إِنَّ عَلَيْكَ نَهَارًا
“Sesungguhnya engkau masih di waktu siang hari.”
Maka Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam tetap tidak menerima usulannya, bahkan beliau tetap memerintahkannya:
انْزِلْ، فَاجْدَحْ لَنَا
“Turunlah kamu lalu tuangkan air untuk kami.”
Fulân tersebutpun turun lalu menuangkan air untuk Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam, beliau pun minum kemudian beliau berkata:
إِذَا رَأَيْتُمُ اللَّيْلَ قَدْ أَقْبَلَ مِنْ هَا هُنَا، فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ
“Jika kalian telah melihat malam telah menghadap dari sana maka sungguh telah berbuka orang yang berpuasa.”
Jadi termasuk suatu kesalahan bila waktu berbuka puasa itu ketika malam sudah gelap, apalagi kalau ditentukan dengan hitungan beberapa menit setelah shalat maghrib.
Dengan dalîl-dalîl yang telah kami bawakan tersebut jelaslah bahwa apa yang dikatakan oleh Al-Ustâdz Mahrûs ‘Alî Waffaqahullâh adalah suatu kesalahan, kalau seandainya beliau menerima dalîl-dalîl tersebut dengan tanpa menta’wîlnya dan tanpa mengedepankan perkataan ‘ulamâ’ atas dalîl-dalîl maka Insyâ Allâh beliau tidak akan terjatuh ke dalam ta’wîlan yang salah, Wabillâhit Taufîq wal Hidâyah.
Dijawab oleh:
Muhammad Al-Khidhir pada 18 Ramadhân 1439 di Rawalumbu Bekasi.