KEUTAMAAN MEMPELAJARI DAN PERHATIAN KEPADA SHAHIHUL BUKHARI

Pertanyaan:
Kenapa tidak terdengar lagi Ustadz Khidhir kajian Shahihul Bukhari?.

Jawaban:
Kita tunda pembacaan “Shahih Al-Bukhari” karena sedang terfokus pada kajian hadits-hadits dari kitab “Durusullughah Al-‘Arabiyyah” yang sudah tersusun dalam suatu kitab kecil dengan judul “Al-Hadiyyatudz Dzahabiyyah fi Durusillughatil ‘Arabiyyah”.
Kita fokuskan pada kitab ini untuk latihan menghafal hadits-hadits bagi yang belum terbiasa menghafal, setelah itu Insya Allah kita akan lanjutkan kajian “Shahihul Bukhari”. Insya Allah kita akan tetap membaca kitab “Shahihul Bukhari” ini, kitab yang paling kita cintai setelah Kitabullah Al-Qur’an adalah kitab “Shahihul Bukhari, ini merupakan kitab besar yang paling berarti dan berharga bagi kita. Ada suatu kisah yang disebutkan di dalam “Siyaru A’lamin Nubala'” dari Abu Zaid Al-Marwadzi semoga Allah merahmatinya, beliau berkata:

كُنتُ نائما بين الركن والمقام، فرأيت النبي صلى الله عليه وسلم، فقال لي: يا أبا زيد، إلى متى تَدْرُس كتاب الشافعي، ولا تدرس كتابي؟ فقلت: يا رسول الله، وما كتابك؟ قال: جامع محمد بن إسماعيل

“Dahulu aku tidur di antara Rukun (Hajar Aswad) dan Maqam (Ibrahim), lalu aku melihat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (di dalam mimpi), beliau berkata kepadaku: “Wahai Abu Zaid, sampai kapan engkau mempelajari kitab Asy-Syafi’i dan engkau tidak mempelajari kitabku? Aku pun bertanya: “Wahai Rasulullah, apa kitabmu? Beliau menjawab: “Jami’u Muhammad ibni Isma’il (Shahih Al-Bukhari).”
Orang shalih lagi ‘alim yang jelas orangnya seperti Abu Zaid Al-Marwadzi mimpi melihat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dapat dibenarkan, karena syaithan tidak dapat menyerupai Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, berkata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَسَيَرَانِي فِي الْيَقَظَةِ وَلَا يَتَمَثَّلُ الشَّيْطَانُ بِي

“Barangsiapa melihatku dalam tidur, maka (seakan-akan) dia melihatku ketika terjaga, (karena) syaithan tidak bisa menyerupaiku.”
Masya Allah kitab “Shahihul Bukhari” kitab paling agung bagi kita, maka hendaklah kita perhatian padanya melebihi kitab selainnya. Dan kita sebutkan bahwa kitab yang paling kita cintai setelah “Kitabullah Al-Qur’an” adalah kitab “Shahihul Bukhari”. Apalagi pada mimpi Abu Zaid Al-Marwadzi disebutkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai kitabnya, karena isinya adalah hadits-hadits shahih beliau, semoga Allah memberi taufiq kepada kita untuk bisa mempelajari kitab ini. Al-Imam Al-Ghazali disebutkan bahwa beliau setelah menulis banyak kitab, beliau menyesal dan bertaubat di akhir-akhir hayatnya. Saat sakitnya, Shahihul Bukhari di dadanya, banyak membaca Shahihul Bukhari. Disebutkan oleh Syaikhul Islam, Ibnu Katsir dan Ad-Dahlawi Rahimahumullah:

إن الإمام الغزالي قد تاب عند الوفاة، ووضع على صدره صحيح البخاري؛ رجاءً لحسْن الخاتمة، غفر الله له

“Sungguh Al-Imam Al-Ghazali benar-benar telah bertaubat saat akan wafat, beliau meletakkan Shahihul Bukhari di atas dadanya, beliau berharap berkesudahan yang baik, semoga Allah memberikan ampunan kepadanya.”
Masya Allah, inilah keutamaan dari perhatian terhadap Shahihul Bukhari, Wabillahit Taufiq.

[Muhammad Al-Khidhir Ghafarallahu Lahu wa Radhiya ‘Anhu].

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/13161
⛵ https://whatsapp.com/channel/0029Vb15hbQD8SDy7cwy460C/1448