BUAH-BUAHAN MAKANAN SEHAT MENYEHATKAN

Setelah ayah kita Âdam dan ibu kita Hawa diciptakan maka diperintahkan keduanya untuk memakan buah-buahan di dalam Surga kecuali buah Khuldi dilarang bagi keduanya, berkata Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ:

وَقُلۡنَا یَـٰۤـَٔادَمُ ٱسۡكُنۡ أَنتَ وَزَوۡجُكَ ٱلۡجَنَّةَ وَكُلَا مِنۡهَا رَغَدًا حَیۡثُ شِئۡتُمَا وَلَا تَقۡرَبَا هَـٰذِهِ ٱلشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ ٱلظَّـٰلِمِینَ

“Kami katakan: Wahai Âdam, menetaplah kamu dan isterimu di dalam Surga, makanlah makanan-makanan yang banyak sesuka kalian berdua dan jangan kalian berdua mendekati pohon khuldi ini, karena kalian berdua akan termasuk orang yang zhâlim.” [Surat Al-Baqarah: 35].

Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ berkata:

وَلَهُمۡ فِیهَا مِن كُلِّ ٱلثَّمَرَ ٰ⁠تِ

“Di dalam Surga ada berbagai buah-buahan untuk orang-orang yang bertakwa.” [Surat Muhammad: 15].

Kebutuhan manusia terhadap buah-buahan merupakan kebutuhan yang paling mendasar, karena orang yang sangat jarang memakan buah-buahan atau sangat kurang memakan buah-buahan teranggap dia sebagai orang yang berkekurangan, dan itu sebagai cobaan baginya, karena di antara cobaan dari Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ kepada para hamba-Nya adalah kekurangan buah-buahan:

وَلَنَبۡلُوَنَّكُم بِشَیۡءࣲ مِّنَ ٱلۡخَوۡفِ وَٱلۡجُوعِ وَنَقۡصࣲ مِّنَ ٱلۡأَمۡوَ ٰ⁠لِ وَٱلۡأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَ ٰ⁠تِۗ

“Sungguh benar-benar Kami akan menguji kalian dengan sesuatu berupa rasa takut, rasa lapar, kekurangan pada harta benda dan jiwa serta kekurangan buah-buahan.” [Surat Al-Baqarah: 155].

Dahulu Khalîlullâh Ibrâhîm Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam mendapati puteranya Ismâ’îl dan keluarganya yang makanan keseharian mereka adalah daging dan air, kemudian Ibrâhîm ‘Alaihish Shalâtu was Salâm berdoa:

رَبِّ ٱجۡعَلۡ هَـٰذَا بَلَدًا ءَامِنࣰا وَٱرۡزُقۡ أَهۡلَهُۥ مِنَ ٱلثَّمَرَ ٰ⁠تِ.

“Wahai Rabbku jadikanlah negeri Makkah ini negeri yang aman dan berilah rezki kepada penduduknya dengan berbagai buah-buahan.” [Surat Al-Baqarah: 126].

Setelah itu, Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ rezkikan buah-buahan kepada penduduk Makkah, di antaranya korma dan anggur.

Allâhu Akbar, doa tersebut sebagai bimbingan untuk kita supaya menyadari bahwa buah-buahan merupakan makanan yang sangat kita butuhkan.
Pada zaman Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam di Makkah sudah mulai bertambah buah-buahan, di antaranya kurma, anggur, zaitun dan labu. Seandainya dahulu sudah ditemukan jalan ke Nusantara ini maka berbagai buah-buahan yang ada di Nusantara ini ketika dibawa ke Makkah tentu Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam akan memakannya, daging ikan saja beliau makan padahal ikan ketika itu belum didapati di Makkah dan di Madînah, namun ketika Abû ‘Ubaidah dan para Shahabat Radhiyallâhu ‘Anhum menemukan ikan besar yang mati di tepi pantai maka mereka memakan sebagiannya, kemudian mereka kisahkan kepada Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam, beliau pun berkata:

هُوَ رِزْقٌ أَخْرَجَهُ اللَّهُ لَكُمْ فَهَلْ مَعَكُمْ مِنْ لَحْمِهِ شَيءٌ فَتُطْعِمُونَا

“Itu adalah rezki yang Allâh telah keluarkan untuk kalian, apakah masih ada bersama kalian dari dagingnya supaya kalian berikan kepada kami.” Riwayat Muslim.
Dan Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam pun memakan daging dari ikan tersebut.

Bagaimana kiranya dengan buah-buahan dari Nusantara ini? Buah labu saja beliau makan dan bahkan beliau sangat senangi, berkata Anas bin Mâlik Radhiyallâhu ‘Anhu:

إِنَّ خَيَّاطًا دَعَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِطَعَامٍ صَنَعَهُ، فَذَهَبْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَأَيْتُهُ يَتَتَبَّعُ الدُّبَّاءَ مِنْ حَوَالَيِ الْقَصْعَةِ، فَلَمْ أَزَلْ أُحِبُّ الدُّبَّاءَ مِنْ يَوْمِئِذٍ

“Sesungguhnya seorang tukang jahit pernah mengundang Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam untuk menghadiri jamuan makan yang telah dia buat. Lalu aku berangkat bersama Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam menghadirinya. Aku melihat Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam memilih-milih buah labu dari sekitar mangkok. Maka sejak saat itu aku senantiasa menyukai labu.” Riwayat Al-Bukhârî.

Ditulis oleh:
Muhammad Al-Khidhir pada malam Jum’at 10 Rabî’ul Awwal 1441 / 8 November 2019 di Maktabah Al-Khidhir Bekasi.