USUS PENAMPUNG PENYAKIT

Penyakit seseorang itu terkadang berakibat dari perutnya, jika usus yang ada di dalam perut itu sehat maka tubuh akan sehat, jika usus tidak sehat maka tubuh juga tidak akan sehat. Supaya usus seseorang itu sehat maka hendaklah dia memperhatikan makanannya, berkata Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ:

فَلۡیَنظُرِ ٱلۡإِنسَـٰنُ إِلَىٰ طَعَامِهِۦۤ

“Maka hendaklah seseorang melihat kepada makanannya.” [Surat ‘Abasa: 24].

Anjuran untuk melihat makanan di sini bukan hanya sekedar melihat kepada kehalalan dan kelezatannya saja namun perlu pula melihat kepada manfaatnya, jika memberi manfaat kepada tubuh maka hendaklah makanan itu yang menjadi perhatian.
Pada ayat berikutnya setelah ayat tersebut, Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ isyaratkan tentang makanan sehat dan menyehatkan yang Dia tumbuhkan melalui siraman air hujan:

أَنَّا صَبَبۡنَا ٱلۡمَاۤءَ صَبࣰّا * ثُمَّ شَقَقۡنَا ٱلۡأَرۡضَ شَقࣰّا * فَأَنۢبَتۡنَا فِیهَا حَبࣰّا * وَعِنَبࣰا وَقَضۡبࣰا * وَزَیۡتُونࣰا وَنَخۡلࣰا * وَحَدَاۤىِٕقَ غُلۡبࣰا * وَفَـٰكِهَةࣰ وَأَبࣰّا * مَّتَـٰعࣰا لَّكُمۡ وَلِأَنۡعَـٰمِكُمۡ

“Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air hujan, kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, zaitun dan kurma, kebun-kebun yang lebat, untuk kesenangan bagi kalian dan untuk binatang-binatang ternak kalian.” [Surat ‘Abasa: 25-32].

Curahan air hujan yang Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ turunkan ke bumi itu bisa kita ibaratkan dengan air bening yang disiramkan ke dalam usus kita, sebab usus kita ini memerlukan siraman air bening yang secukupnya, air hujan yang Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ turunkan itu adalah air bening yang bersih dan suci lagi menyucikan, hendaklah bagi kita yang menginginkan hidup sehat untuk menimun air bening seperti itu, tidaklah seseorang terkena penyakit ginjal melainkan karena kelalaiannya, dia jarang meminum air bening yang sudah ada secara alami.
Bagaimana kiranya keadaan bumi yang dipenuhi berbagai sampah dan pencemaran jika tidak disirami air padanya?
Bagaimana kiranya usus kita yang sudah terkotori dengan berbagai makanan dan minuman yang tidak sehat menyehatkan?
Apa jadinya usus kita yang sudah dimasuki makanan padat dan keras dari berbagai makanan olahan yang tidak alami lagi jika kita tidak menyiraminya dengan air bening secukupnya?
Air yang kita minum itu akan mencoba mencairkan makanan yang padat dan keras, tentu tidak semudah itu. Oleh karenanya diperlukan asupan buah-buahan beberapa menit setelah meminum air bening supaya keberadaan buah-buahan itu mendorong keluar berbagai kotoran dan cairan-cairan padat yang nempel di dinding-dinding usus.
Pada ayat-ayat tersebut telah disebutkan di antara buah-buahan, jika kita membiasakan memakan buah-buahan di saat perut kosong maka tentu usus kita akan sehat.
Ummu ‘Îsâ Maryam Ash-Shiddîqah Radhiyallâhu ‘Anhâ ketika bersalin diperintahkan kepadanya untuk menggoyang pohon kurma supaya berguguran buah-buahnya yang nantinya beliau makan setelah bersalin:

وَهُزِّیۤ إِلَیۡكِ بِجِذۡعِ ٱلنَّخۡلَةِ تُسَـٰقِطۡ عَلَیۡكِ رُطَبࣰا جَنِیࣰّا

“Goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan ruthab (buah korma segar) yang matang untukmu.” [Surat Maryam: 25].
Tentu setelah bersalin beliau akan merasakan keletihan dan kelelahan serta rasa lapar, sehingga beliau dianjurkan untuk memakan buah kurma segar tersebut:

فَكُلِی وَٱشۡرَبِی وَقَرِّی عَیۡنࣰاۖ

“Lalu makanlah, minumlah dan bersenang hatilah.” [Surat Maryam: 26].

Hikmah dari anjuran memakan buah-buahan di saat perut kosong adalah untuk membersihkan usus dari apa saja yang mengotorinya, apabila usus selalu sehat dan bersih maka Insyâ Allâh tubuh akan senantiasa sehat dan akan nampak kecerahan pada wajah dan kulit.

(Faedah dari Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh sebelum kajian Syarhu Durûsil Lughatil ‘Arabiyyah di Mutiara Gading Timur 2 Bekasi pada hari Ahad 6 Rabî’ul Awwal 1441 / 3 November 2019).

⛵️ https://whatsapp.com/channel/0029Vb15hbQD8SDy7cwy460C/1722
⛵ https://t.me/majaalisalkhidhir/3530