AKIBAT TIDAK MENDAPATKAN AMPUNAN ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA DI BULAN RAMADHAN

Khutbah Pertama:

السّلَامُ عَلَيكُم وَرَحمةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسمِ اللّٰهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
إِِنَّ الْحَمْدَ للّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّهُ فَلا مُضِلَّ لَهُ، وَمْنْ يَضْلُلُ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدُهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
يَقُولُ اللّٰهُ عَزَّ وَجَلَّ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
وَيَقُولُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً
وَيَقُولُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً
أَمَّا بَعْدُ
فَإِنَّ خَيْرَ الْكَلَامِ كَلَامُ اللّهُ تَعَالَى، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةْ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ

أَيّهَا الْمُسلِمُونَ رَحِمَكُمُ اللّهُ

Tanpa terasa kita telah berada di bagian akhir bulan Ramadhan, hanya tersisa empat atau lima hari lagi kita akan berpisah dengan Ramadhan. Maka menjadi permasalahan bagi kita, apakah dosa-dosa yang pernah kita lakukan sudah diampuni ataukah belum?. Alhamdulillah, kita bersyukur kepada Allah yang telah memberikan banyak peluang bagi kita untuk mendapatkan ampunan-Nya. Pada muqaddimah khutbah tadi telah kita sebutkan salah satu perkataan-Nya:

یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَقُولُوا۟ قَوۡلࣰا سَدِیدࣰا . یُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَـٰلَكُمۡ وَیَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡ

“Wahai orang-orang beriman, bertaqwalah kalian kepada Allah dan ucapkanlah oleh kalian perkataan yang baik maka Allah akan memperbaiki amalan kalian dan mengampuni terhadap dosa-dosa kalian.” [Surat Al-Ahzab: 70-71].
Pada ayat yang mulia ini, terdapat wasiat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya yang beriman untuk menjaga ketaqwaan dan meningkatkannya, dengan itu maka para hamba akan mendapatkan ampunan-Nya.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.
Walaupun hanya beberapa hari lagi kita akan ditinggalkan oleh Ramadhan, namun peluang untuk mendapatkan ampunan Allah Jalla wa ‘Ala masih sangat terbuka, kita baru saja melewati malam ke dua puluh lima Ramadhan dan Alhamdulillah masih ada malam ke dua puluh tujuh dan malam ke dua puluh sembilan Ramadhan. Jadi peluang untuk mendapatkan Lailatul Qadr masih sangat memungkinkan, dan perlu kita ketahui bersama bahwa waktu Lailatul Qadr itu dari tenggelamnya matahari hingga terbit fajar, banyak amalan yang hendak kita lakukan supaya kita mendapatkan ampunan Allah, saat tenggelam matahari kita berdoa, kita memohon ampunan Allah lalu kita berbuka puasa dengan kurma atau makanan ringan atau meminum minuman, setelah itu kita shalat sunnah qabliyyah maghrib dua raka’at, setelah shalat maghrib kita lakukan shalat ba’diyyahnya dua raka’at dan seterusnya dari amalan-amalan yang disyari’atkan hingga terbit fajar maka tentu kita akan mendapatkan Lailatul Qadr.

Ikhwatal Islam Rahimakumullah.
Dengan banyaknya peluang untuk mendapatkan ampunan Allah, kalau kemudian ada yang tidak memanfaatkannya hingga dia tidak diampuni dosa-dosanya setelah berpisah dengan Ramadhan ini maka sungguh betapa meruginya, tidak hanya tidak diampuni namun juga mendapatkan doa kejelekan dari makhluk Allah yang terbaik dari kalangan malaikat yaitu Jibril ‘Alaihish Shalatu was Salam yang diaminkan oleh makhluk terbaik dari kalangan manusia yaitu Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Ada suatu hadits yang diriwayatkan dari Jabir bin Samurah Radhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata:

صعِد النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم المنبرَ، فقال: آمين، آمين، آمين، فلمَّا نزل سُئل عن ذلك، فقال: أتاني جبريلُ، فقال: رغِم أنفُ امرئٍ أدرك رمضانَ فلم يُغفرْ له، قُلْ: آمين، فقلتُ: آمين، ورغِم أنفُ امرئٍ ذُكِرتَ عنده فلم يُصلِّ عليك، قُلْ: آمين، فقلتُ: آمين، ورغِم أنفُ رجلٍ أدرك والدَيْه أو أحدَهما فلم يُغفرْ له، قُلْ: آمين، فقلتُ: آمين

“Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam naik mimbar, lalu beliau mengucapkan: “Amin, amin, amin.” Setelah beliau turun, maka beliau ditanya tentang ucapannya itu, beliau berkata: “Datang kepadaku Jibril, lalu berkata: “Kerendahan yang menghinakan bagi seseorang yang dia mendapati Ramadhan lalu dia tidak diampuni.” Jibril berkata: “Ucapkanlah: Amin”, akupun ucapkan Amin. Dan Kerendahan yang menghinakan bagi seseorang yang dia disebutkan namamu di sampingnya lalu dia tidak bershalawat kepadamu maka ucapkanlah amin, akupun ucapkan amin. Dan kerendahan yang menghinakan bagi seseorang yang dia mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya lalu dia tidak diampuni maka ucapkanlah amin, akupun ucapkan amin.” Hadits ini diriwayatkan pula oleh Al-Bukhari di dalam kitabnya Al-Adabul Mufrad dan yang lainnya dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu.
Yang menjadi pokok pembahasan kita pada khutbah ini adalah perkataannya:

رغِم أنفُ امرئٍ أدرك رمضانَ فلم يُغفرْ له

“Kerendahan yang menghinakan bagi seseorang yang dia mendapati Ramadhan lalu dia tidak diampuni.”
Pada perkataannya ini “raghima anfum ri’in” dalam suatu lafazh “raghima anfu rajulin” (kerendahan yang menghinakan pada seseorang), asal kalimat ini adalah raghima dan anfu, raghima yaitu pemaksaan atau penyeretan sedangkan anfu yaitu hidung. Jika digambarkan keadaan seseorang, dia diseret hidungnya ke jalan yang rusak atau kalau di zaman sekarang diseret ke jalan aspal maka apa yang terjadi pada seseorang?! Tentu rupanya akan rusak, wajahnya akan hancur, akan mengerikan akibatnya. Nas’alullahas Salamata wal ‘Afiyah.
Coba kita bayangkan kengerian tersebut, sungguh menyakitkan. Apalagi ini merupakan doa yang diucapkan oleh malaikat terbaik dan diaminkan oleh manusia terbaik, saat naik mimbar pada tingkat pertama mengucapkan amin hingga tingkat ke tiga mengucapkan amin. Ini perkara besar yang hendaknya kita khawatirkan dan takutkan diri kita, Nas’alullahas Salamata wal  ‘Afiyah.

Ikhwatal Iman Rahimakumullah.
Maka menjadi tugas kita pada bagian-bagian akhir dari Ramadhan ini untuk serius dan bersungguh-sungguh mendapatkan ampunan Allah Jalla wa ‘Ala, penting bagi kita mencari Lailatul Qadr karena keutamaannya begitu besar sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Bukhari di dalam “Shahih”nya:

باب فَضْلِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ: وَقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ تَنَزَّلُ الْمَلاَئِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ سَلاَمٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

“Bab keutamaan Lailatul Qadr, dan berkata Allah Ta’ala: “Sungguh Kami telah menurunkan Al-Qur’an pada Lailatul Qadr (malam penuh kemuliaan). Tahukah kamu apa itu Lailatul Qadr?. Lailatul Qadr itu lebih baik daripada seribu bulan. Para Malaikat dan Jibril turun pada malam itu dengan izin Rabb mereka untuk mengurusi semua urusan. Malam itu penuh keselamatan yang mensejahterakan hingga terbit fajar.” [Surat Al-Qadar: 1-5].
Luar biasa jaminan keselamatan yang mensejahterakan itu, waktunya dalam sebulan hanya semalam yaitu dari tenggelamnya matahari hingga terbit fajar. Maka hendaklah kita perbaiki iman kita dan kita berupaya untuk meningkatkan iman kita serta benar-benar mengharapkan wajah Allah dalam memanfaatkan kesempatan terbaik ini, karena hanya dengan sebab itu kita akan mendapatkan ampunan Allah ‘Azza wa Jalla. Berkata Al-Bukhari Rahmatullah ‘Alaina wa ‘Alaih:

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ: حَفِظْنَاهُ وَإِنَّمَا حَفِظَ مِنَ الزُّهْرِيِّ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ، وَمَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin ‘Abdillah, beliau berkata: Telah menceritakan kepada kami Sufyan, beliau berkata: Kami telah menghafalnya, yakni beliau telah menghafalnya dari Az-Zuhri dari Abu Salamah dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau berkata: “Barangsiapa berpuasa Ramadhan dalam keadaan penuh iman dan mengharap pahala maka dia diampuni baginya terhadap dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa shalat pada saat Lailatul Qadr dalam keadaan penuh iman dan mengharap pahala maka diampuni baginya terhadap dosa-dosanya yang telah lalu.”

Ikhwatal Islam Rahimakumullah.
Kita hendaklah bersungguh-sungguh untuk mendapatkan ampunan Allah Tabaraka wa Ta’ala, karena kita pasti telah mengetahui bahwa kita dan amalan-amalan yang kita lakukan tidak seberapa bila dibandingkan amalan para Salaf kita, Salaf kita Nabi dan para Shahabatnya ‘Alaihimush Shalatu was Salam telah mendapatkan kabar gembira bahwa mereka telah diampuni, mereka mendengarkan kabar gembira langsung dari wahyu, bersamaan dengan itu mereka masih selalu takut dari tidak diampuni. Padahal mereka telah bertaubat, padahal mereka tidak menjadikan orang-orang musyrik sebagai saudara-saudari seiman dan seagama, padahal mereka telah bara’ dari syirik dan para pelakunya, padahal mereka sangat menjunjung tinggi hukum-hukum Allah, padahal mereka beramal sesuai yang mereka lihat dan dengarkan dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Bersamaan dengan itu, mereka takut dari tidak diampuninya dosa-dosa mereka. Rasa takut yang begitu mendalamnya sampai Ibu kita Ummul Mu’minin ‘Asiyah Radhiyallahu ‘Anha wa Radhiyallahu ‘Anna pernah berkata sebagaimana pada riwayat Ibnu Abi Syaibah:

لو عرفت أي ليلة ليلة القدر ما سألت الله فيها إلا العافية

“Kalau aku mengetahui malam manakah Lailatul Qadr maka aku tidak akan meminta kepada Allah pada malam itu kecuali hanya meminta ampunan yang luas.”
Apa yang beliau katakan, ini sesuai dengan bimbingan Nabi Shallallahu ‘Alaih wa Sallam kepadanya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Ashhabus Sunan kecuali Abu Dawud dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, beliau berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ وَافَقْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ مَا أَدْعُو قَالَ: تَقُولِينَ اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

“Wahai Rasulullah, apa pendapat engkau jika aku mendapati Lailatul Qadr? Doa apa yang akan aku ucapkan?, beliau berkata: “Ucapkanlah: Ya Allah, sungguh Engkau adalah ‘Afwu (Maha Pemberi ampunan yang luas), Engkau mencintai sifat pema’af maka berilah ampunan yang luas kepadaku.”
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan untuk tidak hanya sekedar memohon maghfirah (ampunan) namun beliau anjurkan untuk memohon yang lebih dari sekedar ampunan, yaitu ‘afwu (permohonan ampun yang luas), karena:

العفو أبلغ من المغفرة

“‘Afwu itu lebih mencakupi daripada maghfirah.”
‘Afwu itu menghapus dosa tanpa tersisa, sedangkan maghfirah itu menutupi dosa. Orang kalau mengulangi berbuat dosa atau dia membuka aib-aib orang Muslim maka sangat memungkinkan akan dibuka tutupan dosa-dosanya, akan disingkap dosa-dosanya yang sudah ditutupi itu. Nas’alullahas Salamata wal ‘Afiyah.
Maka sangat penting bagi kita untuk memohon maghfirah dan ‘afiyah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua:

بِسمِ اللّٰهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ وَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِيْنَ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى ءَالِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْن
أَمّا بَعدُ

Untuk bisa memanfaatkan semaksimal mungkin Lailatul Qadr atau malam-malam yang tersisa pada Ramadhan ini maka hendaklah kita memperbanyak memohon ampunan yang luas kepada Allah terhadap dosa-dosa kita, terutama di saat sepertiga malam terakhir sebelum sahur. Al-Bukhari berkata di dalam “Shahih”nya:

باب الدُّعَاءِ وَالصَّلاَةِ مِنْ آخِرِ اللَّيْل:
وَقَالَ: كَانُوا قَلِيلاً مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ أَيْ مَا يَنَامُونَ: وَبِالأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

“Bab berdoa dan shalat di bagian-bagian akhir malam, dan berkata Allah Ta’ala: “Dahulu mereka (orang-orang yang masuk Surga itu) sedikit tidur pada malam hari.” Yakni mereka tidak tidur: “Pada waktu sahur mereka memohon ampun.”
Setelah beliau buatkan bab tersebut, beliau sebutkan suatu hadits dengan sanadnya bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

“Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun setiap malam ke langit dunia, saat sepertiga malam terakhir Dia berkata: “Siapa yang berdoa kepada-Ku maka Aku akan mengabulkannya, siapa yang meminta kepada-Ku maka Aku akan memberinya dan siapa yang memohon ampunan kepada-Ku maka aku akan mengampuninya.”
Semoga Allah Ta’ala memberi taufik kepada kita untuk bisa memanfaatkan setiap waktu sepertiga malam terakhir dengan memohon ampunan kepada-Nya.
Dan sebagai nasehat untuk kita dan terkhusus untuk para imam shalat tarawih, supaya tidak melupakan membaca qunut witir pada raka’at terakhir shalat witir setelah bangkit dari ruku’:

الَّلهُمَّ اهْدِنَا فِيْمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنَا فِيْمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنَا فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لَنَا فِيْمَا أَعْطَيْتَ وَقِنَا بِرَحْمَتِكَ شَرَّ مَا قَضَيْتَ فَإِنَّكَ تَقْضِي وَلَا يُقْضَى عَلَيْكَ وَإِنَّهُ لَا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ وَلَا يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى مَا قَضَيْتَ

“Ya Allah berilah petunjuk kepada kami sebagaimana orang-orang yang telah Engkau beri petunjuk. Berilah ampunan yang luas kepada kami sebagaimana mereka yang telah Engkau berikan ampunan yang luas. Lindungilah kami sebagaimana orang-orang yang telah Engkau lindungi. Berikanlah keberkahan kepada kami pada apa yang telah Engkau berikan. Selamatkanlah kami dari bahaya kejahatan yang telah Engkau tentukan. Sungguh Engkaulah yang menentukan hukum dan bukan dihukum. Sesungguhnya tidak akan hina orang yang Engkau lindungi dan tidak akan mulia orang yang Engkau musuhi. Maha Suci Engkau wahai Rabb kami Yang Maha Tinggi. Bagi-Mu segala pujian atas apa yang telah Engkau tentukan.”
Lafazh doa qunut ini sudah tidak asing lagi bagi kaum Muslimin, terkhusus bagi mereka yang biasa shalat di belakang imam yang mengaku bermadzhab Syafi’iyyah, biasa dibaca di saat qunut shubuh, padahal lafazh tersebut adalah lafazh qunut witir sebagaimana telah diriwayatkan oleh Ahmad dan Ahlussunan dari Al-Hasan bin ‘Ali dari kakeknya Abul Qasim Muhammad ‘Alaihimush Shalatu was Salam, beliau berkata:

علَّمَني جدِّي كلماتٍ أقولُها في قنوتِ الوِتْرِ

“Kakekku telah mengajariku kalimat-kalimat yang aku akan membacanya di dalam qunut witir.”
Dan ini yang dapat kami sampaikan pada khutbah ini, mohon ma’af jika khutbah kali ini mungkin sedikit panjang, mengingat sangat pentingnya perkara yang mesti untuk kami sampaikan ini. Semoga Allah Jalla wa ‘Ala jadikan khutbah ini bermanfaat untuk kita semua.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ
اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَاننَا الْمُسلِمِين وَالمُجَاهِدِينَ فِي فِلِسْطِين
اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالمُسْلِمِيْن وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
اَللّهُمَّ انْصُرْ مِنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ
اَللَّهُمَّ أَهْلِكَ الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى وَالْكَفَرَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ 
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنَّا
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنَّا
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنَّا
رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لَنَا وَلِإِخۡوَ ٰ⁠نِنَا ٱلَّذِینَ سَبَقُونَا بِٱلۡإِیمَـٰنِ وَلَا تَجۡعَلۡ فِی قُلُوبِنَا غِلࣰّا لِّلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ رَبَّنَاۤ إِنَّكَ رَءُوفࣱ رَّحِیمٌ
رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذۡنَاۤ إِن نَّسِینَاۤ أَوۡ أَخۡطَأۡنَاۚ رَبَّنَا وَلَا تَحۡمِلۡ عَلَیۡنَاۤ إِصۡرࣰا كَمَا حَمَلۡتَهُۥ عَلَى ٱلَّذِینَ مِن قَبۡلِنَاۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلۡنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِۦۖ وَٱعۡفُ عَنَّا وَٱغۡفِرۡ لَنَا وَٱرۡحَمۡنَاۤۚ أَنتَ مَوۡلَىٰنَا فَٱنصُرۡنَا عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡكَـٰفِرِینَ
رَبَّنَاۤ ءَاتِنَا فِی ٱلدُّنۡیَا حَسَنَةࣰ وَفِی ٱلۡـَٔاخِرَةِ حَسَنَةࣰ وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وبَحَمْدكَ أشْهدُ أنْ لا إلهَ إلا أنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وأتُوبُ إِلَيْكَ

Khutbah Jum’at Al-Ustadz Muhammad Al-Khidhir ‘Afallahu ‘Anhu wa Jammalah pada tanggal 25 Ramadhan 1445 / 5 April 2024 di Masjid At-Taqwa Ciketing Mustikajaya Bekasi.

⛵️ https://t.me/kumpulankhutbahalkhidhir/285