TIDAK ADA MADRASAHYANG LEBIH AMAN DARIPADA RUMAH

Pertanyaan:
Kebanyakan ikhwan takutkan anak-anak dari pengaruh pergaulan di lingkungan tempat tinggal, dengan sebab itu mereka usahakan bisa mendekat ke markiz Sunnah. Yang mau ditanyakan di sini, bagaimana solusi bisa menjaga anak?. Apakah harus hijrah ke markiz Sunnah?. Adakah solusi selain harus mendekat ke markiz Sunnah?.

Jawaban:
Teringat dengan suatu atsar munqathi’ yang diriwayatkan oleh Malik dan Ahmad dari Yahya bin Sa’id, beliau berkata:

أنَّ أبا الدرداءِ كتبَ إلى سلمانَ أنْ هلُمَّ إلى الأرضِ المقدسةِ فكتبَ إليهِ سلمانُ: إنَّ الأرضَ المقدسةَ لا تقدسُ أحدًا، إنَّما يقدسُ الإنسانَ عملُهُ

“Bahwa Abud Darda’ menulis surat ke Salman supaya beliau datang ke negeri yang diberkahi (tanah suci Al Quds di Palestina) maka Salman menuliskan surat balasan kepadanya: “Sungguh negeri yang diberkahi (tanah suci Al Quds) tidak akan mensucikan seseorang pun, hanyalah yang mensucikan seseorang itu adalah amalannya.”
Apa yang disebutkan di dalam atsar ini sesusai dengan kenyataan yang kita dapatkan, sungguh sudah banyak yang hadir di majlis kita menceritakan pengamalan dan pengalaman mereka hampir sama, sudah mencoba untuk mendekat ke lingkungan markiz tapi tetap juga anak-anak mereka terpengaruh dengan ketidakbaikan akhlak anak-anak di lingkungan markiz. Itulah fitnah yang mesti akan dihadapkan kepada setiap orang yang ingin hidup bersama orang lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَجَعَلۡنَا بَعۡضَكُمۡ لِبَعۡضࣲ فِتۡنَةً أَتَصۡبِرُونَ

“Dan kami telah jadikan sebagian kalian sebagai fitnah (cobaan) terhadap sebagian yang lain, apakah kalian akan bersabar?!.” [Surat Al-Furqan: 20].
Maka dari itu, pernah kita ingatkan bahwa tidak ada madrasah yang lebih aman daripada rumah. Alhamdulillah kita telah buktikan, dulu waktu masih pindah-pindah dari suatu kontrakan ke kontrakan lainnya hingga empat tahun lebih berlalu, anak-anak kita Alhamdulillah tidak terpengaruh dengan gaya hidup anak-anak sekarang, masalah jalan pun tidak seperti anak-anak pada umumnya, sampai ada tamu bilang: “Anaknya Ustadz itu tidak tahu jajanan.” Waktu masih di Kemang Pratama Bekasi, jika kita keluar lalu kita coba nanya ke anak: “Mau dibeliin apa?.” Dia jawab: “Ubi, pisang atau tempe.” Karena ubi yang direbus atau tempe mentah itu menjadi jajanan kesehariannya, itu sampai umur lima tahun seperti itu. Pernah kita jenguk orang tua di Limboro menjelang wafatnya, kita ajak anak itu, sampai di sana masya Allah kerabat-kerabat kita pada senang, sampai ada yang mau beri uang buat jajan itu tidak mau ambil, diajak ke warung kerabat, sampai di warung dipersilahkan untuk milih jajan apa saja yang disukai, dia pun melihat-lihat, ternyata dia maunya hanya satu, yaitu sangkola (soami), dia tahu itu terbuat dari ubi-ubian (singkong). Sampai orang-orang pada heran, karena tidak tahu jajanan. Bahkan nilai uang pun tidak tahu. Tapi apa yang terjadi setelah kita pindah di sini?. Saat kita mulai menerima anak-anak untuk menjadi santri di sini, mulailah terlihat ada pengaruh dari yang lainnya, karena di antara anak-anak santri yang orang tuanya menitipkan uang jajan mereka ke kita, itu memperlihatkan, setiap pagi sudah pada datang ketuk rumah sambil mengatakan: “Ustadz minta uang jajan.” Setiap hari seperti itu membuat dua anak kita terheran, sampai salah seorang anak kita mengatakan: “Kenapa ya abang-abang itu suka minta uang Abah, bisa habis uang Abah?!. Kita saja tidak pernah dikasih uang sama Abah.” Salah seorang lagi bilang: “Abah kita itu miskin, tidak beruang, itu uang titipan buat mereka.”
Dari situlah mereka mulai mengenal nilai uang, demikian pula jajanan sudah mulai tahu hingga hari ini. Apabila ada tamu yang bawakan jajan atau ada yang kirimkan semisal susu, itu akan menjadikan mereka ketagihan, saat habis maka mereka akan nuntut. Itulah ujian bagi orang tua, Allah ‘Azza wa Jalla berkata:

وَٱعۡلَمُوۤا۟ أَنَّمَاۤ أَمۡوَ ٰ⁠لُكُمۡ وَأَوۡلَـٰدُكُمۡ فِتۡنَةࣱ

“Dan ketahuilah oleh kalian, sesungguhnya harta kalian dan anak-anak kalian adalah fitnah (cobaan).” [Surat Al-Anfal: 28]. Wallahul Musta’an.

[Abu Ahmad Al Khidhir pada hari Rabu, 22 Muharram 1448 / 8 Juli 2026 di Bogor].

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/14428
⛵ https://whatsapp.com/channel/0029Vb15hbQD8SDy7cwy460C/2541