📱 Pertanyaan:Apa hukumnya mengharuskan anak orang lain untuk imunisasi, dengan alasan Ustâdz-Ustâdz salafî Indonesia sepakat tentang keharusannya sebagai bentuk ketaatan kepada penguasa? 📲 Jawaban: Kalau imunisasi diklaim sebagai suatu kesepakatan dari para du’ât Salafiyyîn maka klaim ini telah keliru, kalau dimaksud adalah para du’ât khusus yang tergabung dalam suatu komunitas tertentu atau kelompok tertentu mungkin bisa dianggap mereka bersepakat, namun …
Pertanyaan:Asal kata dari lafzhul jalâlah اللّٰهُ itu bagaimana Ustâdz? Jawaban:Terjadi perbedaan pendapat di kalangan ‘ulamâ tentang asal kata lafzhul jalâlah اللّٰهُ, dan yang benarnya itu berasal dari kata إِلٰهٌ kemudian masuk ال padanya. Huruf hamzah yang berada di awal kata إِلٰهٌ merupakan hamzah washal, ketika masuk ال padanya maka hamzah washal itu dibuang sehingga berubahlah menjadi lafzhul jalâlah اللّٰهُ.Keberadaannya seperti …
Pertanyaan:Sahur yang sesuai sunnah itu apa saja makanannya? Jawaban:Makanan yang paling utama untuk sahur adalah kurma, berkata Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam: نِعْمَ سَحُورُ الْمُؤْمِنِ التَّمْرُ “Sebaik-baik sahur bagi orang beriman adalah kurma.’ Riwayat Abû Dâwud dan Ibnu Hibbân dari Abû Hurairah Radhiyallâhu ‘Anhu.Kebanyakan kaum Muslimîn terkhusus di negeri ini mungkin terasa sulit untuk mendapatkan kurma, namun ternyata banyak makanan …
FÂIDAH ‘ILMU HADÎTS بِسمِ اللّٰهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِين Para pembesar pada thabaqât ketiga menurut Ahlul Hadîts: 1) Imâm penduduk Hijâz adalah Abû ‘Abdillâh Mâlik bin Anas Rahimahullâh. 2) Imâm penduduk Hurâsân adalah Abû ‘Abdirrahmân ‘Abdullâh bin Al-Mubârak Rahimahullâh. 3) Imâm penduduk Kûfah adalah Abû ‘Abdillâh Sufyân bin Sa’îd Ats-Tsaurî Rahimahullâh. 4) Imâm penduduk Mesir adalah Abul Hârits Al-Laits bin Sa’d Al-Fahmî …
Pertanyaan:Apakah shahîh bahwa para Shahabat berdoa ketika datang Ramadhân dengan doa ini: اَللَّهُمَّ سَلِّمْنـِي إِلَى رَمَضَانَ وَسَلِّمْ لِـي رَمَضَانَ وَتَسَلَّمْهُ مِنِي مُتَقَبَّلاً “Yâ Allâh, antarkanlah aku sampai Ramadhân, antarkanlah Ramadhân kepadaku, dan terimalah amal-amalku di bulan Ramadhân.” (Lathâif Al-Ma’ârif, hal. 264) Jawaban:Ibnu Rajab menyebutkan perkataan dari Yahyâ bin Abî Katsîr Rahmatullâh ‘Alainâ wa ‘Alaih: كَانَ مِنْ دُعَائِهِمْ: اَللَّهُمَّ سَلِّمْنـِي إِلَى …
Pertanyaan:‘Afwân Ustâdz, kapan batas akhir waktu yang diperbolehkan untuk melaksanakan shalat tarâwih? Jazâkallâhu khairan katsîran. Jawaban:Batas akhir shalat tarâwih adalah masuknya waktu shubuh yang ditandai dengan terbitnya fajar shâdiq, berkata Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam: فَإِذَا خَشِيَ الصُّبْحَ صَلَّى وَاحِدَةً “Jika seseorang khawatir akan masuk waktu shubuh maka hendaklah dia shalat seraka’at.” Yakni shalat witir.Ini merupakan dalîl yang sangat jelas …
Pertanyaan:Ustâdz izin bertanya lagi, apakah benar sikap senang sebagian orang yang mengaku salafî bersuka cita juga bersyukur atas wafatnya Al-Ustâdz Ja’far ‘Umar Thâlib? Mohon jawabannya Jazâkallâhu Khairan. Jawaban:Orang-orang kalau membangun perselisihan mereka di atas hawa nafsu dan dendam seperti itulah keberadaan mereka, apabila mereka mendengar tentang orang muslim yang berselisih dengan mereka telah wafat maka mereka senang dan bergembira sambil …
بِسمِ اللّٰهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِإِِنَّ الْحَمْدَ للهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلا مُضِلَّ لَهُ، وَمْنْ يَضْلُلُ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدُهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُيَقُولُ اللّٰهُ عَزَّ وَجَلَّ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَوَيَقُولُ سُبْحَانَهُ …
Pertanyaan:Ustâdz, bisakah Ustâdz jelaskan perbedaan antara penggunaan ْكَم yang setelahnya manshûb dan ْكَم yang setelahnya majrûr? Jawaban:Supaya dapat membedakan keduanya maka hendaklah melihat kepada kedudukan كَمْ, jika keberadaannya sebagai khabariyyah maka kata setelahnya adalah majrûr dan ini tidak membutuhkan jawaban, jika keberadaannya sebagai istifhâmiyyah maka kata setelahnya adalah manshûb dan ini membutuhkan jawaban, contohnya: كَمْ حَدِيثٍ حَفِظْتَ “Betapa banyak hadîts …