Pertanyaan:Apakah ada dalîl jika memotong hewan qurbân boleh dilaksanakan sehari setelah hari ‘ied? Jawaban:Dalîl tentang kebolehan memotong hewan qurbân sehari setelah ‘Idul Adhâ adalah keumuman perkataan Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam: وكلُّ أيَّامِ التَّشريقِ ذَبْحٌ “Seluruh hari-hari tasyrîq adalah untuk menyembelih.” Riwayat Ahmad dari Jubair bin Muth’im.Berkata ‘Alî bin Abî Thâlib Radhiyallâhu ‘Anhu: أَيَّامُ النَّحْرِ يَومُ الْأَضْحَى وَثَلَاثَةُ أَيَّامِ بَعْدَهُ …
Al-Kautsar adalah kebaikan yang banyak, di dunia berupa ilmu dan Sunnah sedangkan di akhirat berupa keselamatan dan keberhasilan dalam mencapai telaga Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam. Berkata Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ kepada Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam: إِنَّاۤ أَعۡطَیۡنَـٰكَ ٱلۡكَوۡثَرَ “Sesungguhnya Kami telah memberikan Al-Kautsar kepadamu.” [Surat Al-Kautsar: 1]. Berkata ‘Abdullâh ‘Abbâs Radhiyallâhu ‘Anhumâ: الْكَوثَرُ هُوَ الْخَيرُ الْكَثِيرُ “Al-Kautsar adalah …
Pertanyaan:Bagaimana sikap yang benar dalam menyikapi ucapan Ustâdz-ustâdz yang tidak menerima adanya julukan atas seorang Ustâdz yang disebut dengan Syaikh? Bahwa yang beri julukan itu syaikh-syaikh baru atau para syaikh jadi-jadian sehingga tidak mu’tabar, padahal yang lebih pantas memberi julukan syaikh adalah ‘ulamâ kibâr? Jawaban:Kalau mereka mempermasalahkan julukan syaikh kepada seorang dâ’î, kenapa mereka tidak permasalahkan julukan Ustâdz atas diri …
Pertanyaan:Apakah tidak memotong rambut dan kuku pada tanggal 1 Dzulhijjah hingga hari penyembelihan qurbân itu merupakan salah satu syarat sah qurbân bagi orang yang berqurbân? Jawaban:Bukanlah syarat bagi orang yang berqurbân untuk tidak memotong rambut dan tidak memotong kukunya, karena memotong rambut dan kuku hanyalah larangan, berkata Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam: إِذَا رَأَيْتُمْ هِلاَلَ ذِى الْحِجَّةِ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ …
Pertanyaan:Ustâdz, ‘afwân .. saya mau bertanya, berkaitan dengan puasa ‘Arafah, teman saya kondisi sedang sakit, tadi pagi jam 9 bangun belum sadar total, tapi disuruh keluarganya untuk minum obat. lalu dia meminumnya, akan tetapi saat jam 10 dia sadar kalau lagi ada Puasa ‘Arafah, kalau begitu tetap menjalankan puasa ‘Arafah atau tidak perlu sama sekali yâ Ustâdz? Bârakallâhu fîkum. Jawaban:Tidak …
Pertanyaan:Ustâdz ijin bertanya, apa hukum seorang yang malamnya melakukan hubungan badan dengan isterinya atau melalukan onani lalu dia tertidur dalam keadaan junub, ketika bangun dia dapati matahari sudah terbit padahal dia berniat untuk puasa di hari itu misal seperti sekarang puasa ‘arafah. Apakah dia tetap berpuasa ataukah tidak Ustâdz? Mohon jawabannya.Jazakumullâhu khairan. Jawaban:Karena kejadian junubnya sebelum waktu sahur yakni sebelum …
Pertanyaan:‘Afwân yâ Ustâdz ada yang ingin bertanya, apakah boleh orang yang berpuasa Dâwud pada awal-awal Dzulhijjah ini lalu dia berpuasa ‘Arafah lagi yâ Ustâdz? Jawaban:Bagi yang berpuasa Dâwud atau yang mengqadhâ puasa Ramadhân pada hari-hari permulaan Dzulhijjah ini hendaklah dia mencukupkan pada tanggal 8 Dzulhijjah lalu pada tanggal 9 Dzulhijjah dia berpuasa ‘Arafah, sehingga tidak ketinggalan keutamaan puasa ‘Arafah yang …
Pertanyaan:Bolehkah bagi seseorang yang mengaku salafî menganjurkan menggunakan buku Iqrâ’ yang ditulis oleh seorang kyai Nahdhiyyîn karena buku itu lebih baik dan dia tidak menganjurkan menggunakan buku Iqrâ’ Qîrâ’atî yang ditulis dua orang Ustâdz Tsâbitîn karena katanya keduanya telah menyimpang dan belum taubat dari hizbiyyah memecah bela dakwah Salafiyyah di Indonesia? Jawaban:Seseorang yang mengaku sebagai salafî hendaklah dia inshâf dan …
📱 Pertanyaan:Benarkah Asy-Syaikh ‘Abdurrahmân bin Mar’î Al-‘Adnî gurunya Ustâdz? 📲 Jawaban:Alhamdulillâh kami telah berjumpa dengan Asy-Syaikh ‘Abdurrahmân bin Mar’î Al-‘Adnî Rahmatullâh ‘Alainâ wa ‘Alaih dan kami ikut pula menghadiri daurahnya di Yogyakarta, di saat itu kami sedang menunggu pemberangkatan ke Dârul Hadîts Dammâj. Dengan demikian pantas bagi kami untuk menganggapnya sebagai guru kami, berkata Al-Imâm Ibnu Bâzz Rahmatullâh ‘Alainâ wa …
Pertanyaan:Ustâdz, bagaimana caranya supaya kami tidak meremehkan karunia Allâh atas kami? Mohon nasehat dan bimbinglah kami agar kami bisa ridhâ. Terima kasih. Jawaban:Kami nasehatkan dengan perkataan Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam: انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ “Lihatlah oleh kalian kepada orang yang lebih rendah dunianya di …