TANGGAPAN ATAS KOMENTAR DA’I BERTARGET
Pertanyaan:
Di maps Ma’had Ilmu Al-Hijrah ditanggapi oleh ‘Abbas Abu ‘Abdillah seorang da’i bertarget, bahwa tidak ada ilmu di Ma’had Ilmu Al-Hijrah. Bagaimana menanggapinya Ustadz?.
Jawaban:
Secara sadar dia menunjukkan bahwa ilmu itu bersamanya, andaikan dia dipenuhi keinginan dan nafsunya untuk memegang ma’had sana maka pasti tidak akan muncul komentar miring seperti itu, hakekatnya dia membuka kedoknya sendiri, Nas’alullahal ‘Afiyah.
Bagi dia ilmu itu yang dihafal di luar kepalanya meskipun tidak memberi manfaat berupa menjadikan seseorang sebagai Ahli Tauhid yang sesungguhnya, Alhamdulillah telah berkata sebagian ‘ulama:
العِلْمُ مَا نفَعَ وَليسَ مَا حُفِظَ
“Ilmu itu adalah apa yang bermanfaat bukanlah ilmu itu apa yang dihafal.”
Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah mengatakan:
لَيْسَ العِلْمُ مَا حُفِظَ إِنَّما العِلْمُ مَا نَفَعَ
“Bukanlah ilmu itu apa yang dihafal namun ilmu itu adalah apa yang bermanfaat.”
Andaikan dia itu berjiwa ilmu mestinya tidak akan memberi komentar miring seperti itu, sungguh rasa bangga dan percaya dirinya dengan berani menyatakan tidak ada ilmu di Ma’had sana menunjukkan hakekat diri dan akalnya:
وَكفَى بالمرءِ جَهلًا إذا عَجَبَ بِرَأيِهِ
“Cukuplah kebodohan pada seseorang jika dia kagum terhadap akalnya.”
Dahulu yahudi lebih merasa berilmu karena memiliki kitab suci, mereka menganggap ummiyyun tanpa ada ilmu karena tidak memiliki pedoman kitab suci, mereka tahu letak ayat-ayat di dalam Taurat, makanya mereka berani menutupi ayat-ayat di dalam lembaran Taurat tatkala berkaitan dengan hukum yang mengenai mereka.
Saat Nabi Ummi ‘Alaihish Shalatu was Salam muncul, mereka yang merasa paling berilmu dan paling mengetahui syamailnya sebagaimana mereka mengetahui anak-anak mereka sendiri, ternyata mereka enggan dari mengikutinya karena kemunculannya dari kalangan ummiyyun. Kenyataan sekarang ini seperti itu, merasa paling tahu ilmu, ternyata di saat ilmu Tauhid menjadi prioritas utama di suatu ma’had dan proses belajar mengajar tetap berjalan sebagaimana biasanya, dia pun menganggapnya tidak ada ilmu:
فَإِنَّهَا لَا تَعۡمَى ٱلۡأَبۡصَـٰرُ وَلَـٰكِن تَعۡمَى ٱلۡقُلُوبُ ٱلَّتِی فِی ٱلصُّدُورِ
“Sesungguhnya bukanlah mata kepala yang buta akan tetapi yang buta adalah mata hati yang ada di dalam dada.” [Surat Al-Hajj: 46].
[Muhammad Al-Khidhir Ghafarallahu Lahu wa Radhiya ‘Anhu].
⛵️ https://whatsapp.com/channel/0029Vb15hbQD8SDy7cwy460C/371