Pertanyaan:
Kenapa ustadz-ustadzah salafi tidak mengangkat tema ijazah palsu dan menjelaskan hukumnya?. Apakah karena ulil amrinya tertuduh berijazah palsu?.
Jawaban:
Para da’i yang bermanhaj Salaf tidak akan pernah ridha dengan kemungkaran, sama saja itu berbentuk pemalsuan atau penipuan. Mereka tetap komitmen pada manhaj Salaf dalam menegakkan kebenaran dan dalam menetapkan hukum, yang haq mereka katakan haq dan yang batil mereka katakan batil, mereka tidak akan membeda-bedakan dalam memutuskan hukum, karena Salaf mereka telah tegaskan:
وايْمُ اللَّهِ لو أنَّ فَاطِمَةَ بنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا
“Demi Allah, kalau seandainya Fathimah bintu Muhammad ‘Alaihimash Shalatu was Salam mencuri maka sungguh aku akan memotong tangannya.”
Ini dalam perkara menjatuhkan hukuman, dalam menghukumi pun beliau tegaskan kepada seseorang yang bertanya tentang keberadaan ayahnya:
إنَّ أبِي وأَباكَ في النَّارِ
“Sungguh ayahku dan ayahmu di dalam Neraka.”
Tidak adanya penjelasan hukum dan pengingkaran dari para da’i yang mengaku bermanhaj Salaf mungkin karena merasa itu sebagai ancaman dan pukulan terhadap ulil amri mereka, karena ada dari ulil amri mereka terdakwa dan terduga memiliki ijazah palsu, baik itu ulil amri dari kalangan umara atau ulama mereka. Kita yang pernah belajar kepada insan akademis akan merasa malu jika melihat kelakuan mereka itu, ini kita, lalu bagaimana dengan para insan akademis lainnya atau para pengelola sekolah-sekolah tinggi yang membiarkan mereka memperoleh kepalsuan itu?! Sungguh sangat memalukan. Sebenarnya apa yang mereka inginkan dari kepalsuan itu?!. Padahal sebagian kenikmatan dunia mereka telah miliki, yang diamir umarakan punya penghasilan. Yang dialim ulamakan punya pendapatan, lalu ambisi apa yang mereka inginkan?! Tidak lain adalah pujian dan supaya dibanggakan oleh orang-orang sekitarnya, benar apa yang dikatakan oleh seorang imra’ah pejabat bahwa orang yang mencari ijazah dan mengejar titel itu kebanyakan dari mereka menginginkan pujian dan supaya dibanggakan oleh orang lain. Ini kenyataan, sebagian orang dikenal da’i, karena dari kecil menuntut ilmu di pondokan, tidak pernah merasakan duduk di bangku sekolah, sampai bisa mengajar dan berdakwah. Namun merasa kurang, ingin lebih enak dan terkenal, akhirnya menempuh jalan pintas yaitu membeli ijazah hanya dengan modal mengikuti paket kilat, dalam waktu yang cukup singkat dapat memperoleh ijazah sekolah dasar hingga sekolah tinggi, baginya itu juga masih kurang hingga ingin ikut promosi jadi guru besar. Apa yang diinginkan orang seperti itu?! Biar bisa sukses sesuai harapannya, sampai sebagian dari orang-orang miskin mengatakan tentang orang yang dinilai sudah sukses seperti itu: “Betapa bangga orang tuanya di kubur sana.” Subhanallah, dari mana mereka tahu orang tuanya bangga?!. Kalau orang tuanya itu Muslim bukan musyrik, bukan orang yang mati di atas pembatalan terhadap keislamannya lalu memiliki anak yang shalih maka jelas akan mendapatkan manfaat dari anaknya dan akan menjadi berbahagia dengan bukti keshalihan dirinya dan anaknya, berkata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
إنَّ اللهَ ليرفعُ الدرجةَ للعبدِ الصالحِ في الجنةِ فيقولُ يا ربِّ من أينَ لي هذا فيقولُ باستغفارِ ولدِكَ لكَ
“Sungguh Allah benar-benar akan meninggikan derajat seorang hamba yang shalih di dalam Surga, lalu dia bertanya: “Wahai Rabb dari mana aku peroleh ketinggian derajat ini?.” Allah-pun menjawab: “Dengan sebab permohonan ampun dari anak yang kamu miliki.”
Orang yang mendapatkan titel dan gelar dengan cara yang benar saja kalau dia adalah orang yang shalih maka tidak akan mengakui itu dapat memberi manfaat untuk dirinya di akhirat, karena dia tahu:
یَوۡمَ لَا یَنفَعُ مَالࣱ وَلَا بَنُونَ ٠ إِلَّا مَنۡ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلۡبࣲ سَلِیمࣲ
“Pada suatu hari, tidak akan bermanfaat harta dan tidak pula anak-anak. Kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.” [Surat Asy-Syu’ara: 88-89].
Dia menyadari yang dapat memberi manfaat di akhirat hanyalah keshalihan yang bersih dari noda-noda kekufuran dan kesyirikan.
[Abu Ahmad Al-Khidhir].