AWAL MENUNTUT ILMU
Pertanyaan:
Ustâdzkan pendidikannya di sekolah umum, bukan di sekolah Pesantren, lalu Ustâdz mengenal Islâm Sunnah secara mendalam itu bagaimana ceritanya?
Jawaban:
Kami dahulu mengenal Sunnah dengan sebab Abul ‘Abbâs Harmîn Rahmatullâh ‘Alainâ wa ‘Alaih, beliau setelah mengenal dan mempelajari sunnah melalui para dâ’î Laskar Jihâd Ahlussunnah wal Jamâ’ah, beliau pulang kampung, dengan membawakan oleh-oleh istimewa untuk kami, beliau bawakan untuk kami Mushhaf Al-Qur’ãn terjemahan yang dicetak oleh KSA dan beberapa buku terjemahan, di antaranya Hisnul Muslim, Sifat Shalat Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam dan Majalah Salafy. Beliau bersengaja membawakan itu semua karena beliau mengetahui kami hobi membaca, bila ada masalah maka kami bertanya langsung kepada beliau. Beliau sangat sabar dalam membimbing kami, mengarahkan kami hingga kami kuliah di Surabaya, beliau selalu menghubungi kami, terus menerus menasehati dan selalu memotivasi kami untuk bersemangat menghadiri majlis ilmu di masjid-masjid dan bahkan sangat mendukung bila di waktu liburan kuliah kami manfaatkan untuk ke pondok-pondok Pesantren atau menghadiri daurah-daurah di Jawa Timur. Alhamdulillâh setelah kuliah, beliau mendukung kami sepenuhnya untuk menuntut ilmu di beberapa pondok pesantren, setelah itu beliau memberangkatkan kami ke Dârul Hadîts Dammâj di Yaman, semoga Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ membalasnya dengan kebaikan yang banyak, dan memberikan pahala kepadanya sebagaimana memberikan kepada kami, karena Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam telah katakan:
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
“Barangsiapa menunjukkan kepada kebaikan maka baginya semisal pahala orang yang melakukannya.” Riwayat Muslim dari Abû Mas’ûd Al-Anshârî Radhiyallâhu ‘Anhu wa ‘Annâ.
Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra’âh pada hari Rabu tanggal 14 Dzulhijjah 1440 / 4 Agustus 2020 di Maktabah Al-Khidhir Bekasi.