AWAL MULA MENGENAL DAKWAH PARA AIMMAH DAKWAH

Pertanyaan:
Ijin nanya, kalau Ustâdz Al-Khidhir Hafizhahullâh kenal dakwah dari Aimmah Dakwah itu kapan dan siapa yang kenalkan?.

Jawaban:
Alhamdulillâh kita mengenalnya pada tahun 2000 lewat Ustâdz kami Abul ‘Abbâs Harmîn Rahmatullâh ‘Alainâ wa ‘Alaih, berawal dari pengingkaran beliau terhadap foto moyang kami La Bisana. Padahal foto tersebut beliau yang perbanyak saat beliau belum mengenal dakwah, beliau mendapati selembar foto hitam putih yang terdapat padanya moyang kami La Bisana menggendong cucunya yang masih bayi yaitu ayah kami Salîm bin Syahdiah, disampingnya ada seorang cucunya yang sudah remaja yaitu Ismâ’îl bin Ãdam yang disebut Sumaila dan di sampingnya lagi ada seorang cucu tirinya yang sudah dewasa yaitu Wa ‘Ajaulu. Foto tersebut beliau bawa ke Ambon dan dijadikan beberapa lembar, selembar dikirim ke rumah orang tua hingga di pajang di ruang tamu, setelah beliau mengenal dakwah beliau sendiri yang copot foto tersebut. Dengan sebab itu terjadilah dialog dengan kami, Alhamdulillâh beliau menjelaskan kepada kami tentang hukum gambar makhluk bernyawa dan beliau memperkenalkan kepada kami tentang Al-Imâm Muhammad bin ‘Abdil Wahhâb Rahmatullâh ‘Alainâ wa ‘Alaih dan beliau memberikan beberapa buku terjemahan dari karya Al-Imâm Muhammad bin ‘Abdil Wahhâb Rahimahullâh. Salah satu terjemahan kitâb beliau yaitu Kitâbut Tauhîd terdapat di dalamnya satu bâb tentang masalah gambar makhluk bernyawa. Selain masalah gambar makhluk bernyawa, beliau menjelaskan pula kepada kami tentang mantra-mantra dan jimat-jimat, karena diisukan oleh sebagian kerabat bahwa beliau dipengaruhi oleh orang-orang Jawa biar membuang ilmu-ilmu yang beliau telah wariskan dari leluhur, supaya orang-orang Jawa itu yang akan ambil. Beliau menceritakan perolehan mantra-mantra dan jimat-jimatnya itu dari kakek-kakek dan nenek-nenek yang termasuk kerabat, beliau juga mengisahkan tentang beberapa keris pusaka milik moyang kami La Bisana yang dibawa dari Holimombo-Buton ke Limboro-Huamual, bahwa dulunya ada beberapa keris pusaka di dalam peti, terdapat pula medali emas dan selembar baju adat beserta selendangnya, salah satu kerisnya dibawa oleh sepupu saat merantau dan sudah hilang. Dan beliau menceritakan dari kedua orang tua kami bahwa kami saat masih kecil pada usia tiga tahun pernah membawa masuk ke rumah satu keris dan sebiji mirip mutiara, sampai ibu kami khawatir, menurutnya bahwa keris itu menakutkan, karena tidak diperhatikan dan tidak disimpan dengan baik lalu keris dan sebiji yang mirip mutiara itu hilang, setelah hilang baru ayah kami menyadari sesuai keyakinan mereka bahwa itu titipan yang diberikan lewat kami.
Ustâdz kami Abul ‘Abbas Rahmatullâh ‘Alainâ wa ‘Alaih menjelaskan kepada kami bahwa mantra-mantra, jimat-jimat dan keris-keris yang dipusakakan itu semuanya kesyirikan, lebih besar dosanya daripada menggambar makhluk bernyawa, karena ini hanya wasîlah atau mengantarkan kepada kesyirikan, sementara semua perkara tadi yakni jimat-jimat, mantra-mantra dan keris-keris yang dipusakakan adalah kesyirikan.
Saat masih ramai kerusuhan di Ambon, kami ke Ambon dan beliau membawa kami ke beberapa posko jaga hingga kami dapat mengikuti kajian-kajian di Ambon. Dan beliau tidak henti-hentinya memotivasi untuk menuntut ilmu syar’î saat kami di Surabaya, di tengah-tengah kesibukan kuliah beliau selalu mengingatkan untuk selalu bermajlis ilmu dan beliau memberikan link penerimaan mahasiswa baru UIM, karena mengetahui keinginan kami untuk belajar kepada para ‘ulama dari murid-murid Aimmah Dakwah, beliau inginkan kami kuliah di UIM namun karena tidak memiliki pensyafa’at dan juga tidak mampu ke sana langsung maka disuruh bersabar dulu. Setelah merasa memiliki biaya yang cukup untuk rihlah, beliaupun menghubungi kami dan menawarkan untuk ke Dârul Hadîts Yaman saja karena ada jalur lebih mudah untuk ke sana, Alhamdulillâh kamipun bisa ke sana dengan izin Allâh dan dengan sebab dukungan beliau Jazâhullâhu khairan wa Askanahu Jannatal Firdaus.

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/9856