DAKWAH AHLISSUNNAH DI TENGAH UMMAH

Pertanyaan:
Bagaimana menjawab hujatan sebagian orang yang mentahdzîr orang lain dari da’i sunnah yang berdakwah di masjid umum dengan dalih ada du’at hizbiyyûn juga yang isi kajian di masjid itu? Apakah benar da’i sunnah harus dakwah di masjid Ahlussunnah, tidak boleh dakwah di masjid umum karena alasannya tadi?

Jawaban:
Kalau yang menetapkan ketentuan itu merasa bahwa dirinya dahulu mengenal sunnah dari masjid Ahlussunnah atau dia anak markiz Ahlussunnah mungkin kita bisa maklumi, mungkin dia belum pernah bermasyarakat, tapi kalau dia mengenal sunnah pertama kalinya ternyata lewat kajian di masjid umum atau lewat perantara Ahlussunnah yang bukan anak yang terlahirkan dari markiz Ahlussunnah berarti dia lupa tentang sejarah dirinya, dia lupa tentang cerita hidupnya, maka perlu untuk diingatkan semoga bermanfaat:

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَىٰ تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ

“Berilah peringatan karena sesungguhnya pemberian peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang beriman.” [Surat Adz-Dzâriyât: 55].

Rahimallâhu Muqbilan Al-Wâdi’î, semoga Allâh merahmati Muqbil Al-Wádi’î, beliau imam, beliau pembawa bendera jarh wat ta’dîl dan bahkan beliau dikenal sangat tegas sampai dijuluki oleh sebagian orang sebagai mutasyaddid, namun tidak pernah kita dengarkan bahwa beliau mentahdzîr manusia dari mengambil ilmu kepada Al-Imâm Ibnu Bâzz, Al-‘Allâmah Ibnul Utsaimîn dan tidak pula kepada ‘Ulamâ sunnah lainnya yang ada di Haramain maupun yang di luar Mamlakah, beliau mengingkari jami’ah dan jam’iyyah, akan tetapi ketika Ibnu Bâzz atau Ibnul Utsaimîn serta ‘Ulamâ sunnah lainnya menyampaikan muhadharah di sebagian jami’ah yang tentunya di bawah naungan jam’iyyah atau di sebagian masjid yang kebanyakannya memiliki kepengurusan atau memiliki muassasah maka beliau tidak langsung mentahdzîr manusia dari mereka, dan tidak pula menvonis mereka sebagai hizbiyyûn, bahkan ketika beliau ditanya tentang siapa ‘Ulamâ salafiyyûn di zamannya? Maka beliau sebut mereka di antaranya, juga beliau sebut Asy-Syaikh ‘Abdul Muhsin Al-‘Abbâd, Asy-Syaikh Shâlih Al-Fauzân dan yang lainnya, beliau tahu mereka, beliau kenal mereka, beliau tahu dakwah mereka dimana? Di masjid mana? Siapa orang-orang di sekeliling mereka? Yang dekat dengan mereka siapa? Beliau tahu itu sebagaimana kita hari ini tahu tentang mereka, bahkan ketika beliau diberi izin masuk ke Mamlakah untuk berobat maka di antara dari para ‘Ulamâ datang menjenguk beliau, sikap beliau seperti sebelumnya penuh dengan kebaikan, pemuliaan dan penghormatan terhadap mereka, dan beliau meninggal dunia dalam keadaan seperti itu, Walhamdulillâh.

Dijawab oleh:
Muhammad Al-Khidhir pada malam Senin 19 Jumâdil Ãkhir 1440 / 24 Februari 2019 di Kemang Pratama 3 Bekasi.

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/2639