INGIN MEMILIKI PUTERA-PUTERA SEBAGAI MUJÂHIDÎN FÎ SABÎLILLÂH
Hampir tidak kita dengarkan lagi atau teramat jarang kita dengarkan orang tua mengharapkan anak-anaknya menjadi para mujâhidîn yang akan berjihâd fî Sabîlillâh. Suatu saat kita mendengarkan seorang saudari kita mengatakan kepada anak laki-lakinya yang masih kecil: “Nanti kalau sudah besar pergi berjihâd.”
Mendengarkan untaian kata itu membuat kita terharu karena sungguh teramat jarang kita dengarkan ada ibu-ibu yang mengucapkan kata nan tangguh seperti itu.
Yâ Allâh jadikanlah putera-putera kami sebagai para mujâhidîn fî Sabîlika yâ Allâh.
Dua puluh tahun belakangan ini, yang sering kita dengarkan para orang tua yang mengerti agama mengharapkan agar anak-anak mereka menjadi para ‘Ulamâ, namun banyak pula justru tidak menjadi ‘Ulama, menjadi Thullâb saja sudah sulit sekali. Bagaimana tidak, di antara mereka memotivasi anak-anak mereka untuk datang ke majlis supaya menuntut ilmu, baru mulai mencoba mencicipi lezatnya ilmu langsung ditarik oleh orang tua mereka atau disuruh menjauh, dengan alasan “ilmu itu agama maka lihatlah kalian kepada siapa kalian mengambil agama kalian”.
Kemudian dipindahkan ke suatu tempat dengan harapan supaya menjadi ‘Ulamâ, tahu-tahunya ditarik lagi, dengan alasan karena majlisnya mirip seperti sebelumnya. Hakekatnya itu justru menjadi penghalang bagi anak-anak mereka untuk menjadi ‘Ulamâ, karena harus pindah sana sini hingga tidak sempat lagi merasakan kelezatan pertama dalam merasakan ilmu. Yang lebih parah lagi alasan di antara mereka: “Mending bodoh daripada mengambil ilmu dari selain Ahlussunnah” yakni dari selain kalangan mereka.
Karena mungkin itu pilihan mereka yaitu mending bodoh maka wajarlah kalau mungkin tidak dapat diharapkan menjadi ‘Ulamâ.
Orang tua yang memiliki harapan agar anak laki-lakinya menjadi mujâhid yang akan berjihâd fî Sabîlillâh, bersamaan dengan itu, dia mendukung dan memotivasinya untuk senantiasa menuntut ilmu. Itu jauh lebih baik dan lebih utama daripada orang tua yang hanya memiliki harapan agar anaknya menjadi ‘âlim ‘Ulamâ.
Harapan memiliki anak yang akan menjadi mujâhid fî Sabîlillâh merupakan harapan terhormat dan bermartabat, itulah harapan Nabiullâh Sulaimân ‘Alaihish Shalâtu was Salâm, beliau diberi kerajaan yang paling kokoh dan kuat yang tidak ada tandingannya satupun dari kerajaan di muka bumi, beliau diberi bala tentara dari kalangan manusia dan jîn, angin bahkan binatang-binatang dan berbagai hewan menjadi bala tentaranya. Namun ternyata beliau masih memiliki harapan nan perkasa, ingin memiliki banyak anak laki-laki supaya menjadi para mujâhidîn fî Sabîlillâh. Berkata Al-Bukhârî Rahimahullâh:
حَدَّثَنِي مَحْمُودٌ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنِ ابْنِ طَاوُسٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ- عَلَيْهِمَا السَّلاَمُ- لأَطُوفَنَّ اللَّيْلَةَ بِمِائَةِ امْرَأَةٍ، تَلِدُ كُلُّ امْرَأَةٍ غُلاَمًا، يُقَاتِلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، فَقَالَ لَهُ الْمَلَكُ قُلْ إِنْ شَاءَ اللَّهُ. فَلَمْ يَقُلْ وَنَسِيَ، فَأَطَافَ بِهِنَّ، وَلَمْ تَلِدْ مِنْهُنَّ إِلاَّ امْرَأَةٌ نِصْفَ إِنْسَانٍ. قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَوْ قَالَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَمْ يَحْنَثْ، وَكَانَ أَرْجَى لِحَاجَتِهِ
“Telah menceritakan kepada kami Mahmûd, beliau berkata: Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrazzâq, beliau berkata: Telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Ibnu Thâwus, dari ayahnya dari Abû Hurairah, beliau berkata: Berkata Sulaimân bin Dâwud ‘Alaihimash Shalâtu was Salâm: Sungguh benar-benar aku akan menggilir 100 wanita dalam semalam supaya setiap wanita melahirkan seorang anak laki-laki yang akan berperang di jalan Allâh.” Maka Malaikat berkata kepada beliau: “Ucapkan Insyâ Allâh (jika Allâh menghendaki), beliau tidak mengucapkannya karena lupa. Lalu beliau menggilir para wanita itu dan tidaklah dari mereka melahirkan anak kecuali seorang wanita melahirkan seorang anak berbentuk setengah manusia. Berkata Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam: “Sekiranya beliau mengucapkan Insyâ Allâh tentu beliau tidak terbatalkan sumpahnya, dan juga keinginannya akan terwujudkan.”
(Muhammad Al-Khidhir).