JALIS SHALIH ADALAH RIZKI

Pertanyaan:
Ini ada pertanyaan, namun alangkah bagusnya jika disisipi nasehat yang barangkali menjadi batu loncatan. Penanya katakan:
Ustadz selain di Bekasi, apakah ada pengajaran di tempat lain yang sama dengan Antum. Terkhusus di Sampit Kalimantan Tengah, adakah murid antum di sana?. Ana nyari tempat belajar untuk anak Ana. ‘Afwan.
Jawaban:
Di tempat-tempat lain Insya Allah akan ada yang sama, hanya saja kita tidak memiliki informasi tentang itu. Ada beberapa ikhwah yang pernah mulazamah dengan kita semasa di rumah kontrakan di Bekasi, di antara mereka ada yang menyelesaikan beberapa kitab, dari yang dasar hingga yang lanjut, dan disampaikan ke kita di antara mereka ada yang sudah jadi pengajar di pesantren tahfizh, ada yang jadi mudir di rumah Qur’an, ada pula yang jadi imam rawatib dan menjadi badal khatib di masjid perumahan, ada pula yang dakwah di kampungnya, dan kita tidak tahu mereka bisa mencapai pencapaian seperti itu melainkan karena ada dari jama’ah mereka saat hadiri majlis kita di Jakarta atau di Bekasi, menceritakan ke kita, bahwa dia tahu Islam yang benar dari ustadznya yang dulu pernah belajar ke kita waktu di Bekasi, Walhamdulillah.
Adapun tempat pengajaran di Sampit dan sekitarnya maka kita belum memiliki informasi tentang itu, mungkin kalian bisa tanyakan ke kenalan-kenalan kalian, mudah-mudahan ada tempat pengajaran yang lebih baik, dan jangan lupa banyak doakan diri kalian dan anak-anak kalian supaya mendapatkan jalis shalih (pengajar atau guru yang shalih), karena jalis shalih itu adalah rizki, yang hendaknya kita minta kepada Ar Razzaq (Allah Yang Maha Pemberi rizki), Al Bukhari meriwayatkan dari Syu’bah, dari Al Mughirah, dari Ibrahim, beliau berkata:
ذَهَبَ عَلْقَمَةُ إِلَى الشَّأْمِ، فَأَتَى المَسْجِدَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ، فَقَالَ: اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي جَلِيسًا
“‘Alqamah pergi ke Syam, kemudian beliau datang ke suatu masjid lalu beliau shalat dua raka’at, setelah itu beliau berdoa: “Ya Allah rizkikanlah aku seorang jalis (guru).”
Dalam suatu lafazh, ‘Alqamah berkata:
قَدِمْتُ الشَّأْمَ فَصَلَّيْتُ رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ قُلْتُ: اللَّهُمَّ يَسِّرْ لِي جَلِيسًا صَالِحًا، فَأَتَيْتُ قَوْمًا فَجَلَسْتُ إِلَيْهِمْ، فَإِذَا شَيْخٌ قَدْ جَاءَ حَتَّى جَلَسَ إِلَى جَنْبِي، قُلْتُ: مَنْ هَذَا قَالُوا: أَبُو الدَّرْدَاءِ. فَقُلْتُ: إِنِّي دَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُيَسِّرَ لِي جَلِيسًا صَالِحًا فَيَسَّرَكَ لِي
“Aku datang ke Syam lalu aku shalat dua raka’at, kemudian aku berdoa: Ya Allah memudahkan untukku seorang jalis yang shalih.” Kemudian aku datang ke suatu kaum, aku duduk bersama mereka, ternyata ada seorang syaikh yang datang hingga duduk di sampingku. Aku pun bertanya: “Siapa syaikh ini?.” Orang-orang menjawab: “Beliau adalah Abud Darda’.” Aku pun berkata: “Sungguh aku telah berdoa kepada Allah untuk memberi kemudahan kepadaku bermajlis dengan orang shalih, Dia pun memudahkannya bermajlis denganmu.”
Walau pun itu hanya sekali bermajlis atau beberapa majlis saja dengannya, namun itu sudah teranggap sebagai rizki istimewa yang patut disyukuri. Teringat dulu waktu kita keluar dakwah di Batam, Masya Allah ada seorang muadzdzin di suatu masjid yang beliaunya masih awam, saat kita mengisi kajian di masjidnya, beliau sangat senang, menjelang kita akan kembali ke Ambon, beliau mengatakan ke kita: “Pak Ustadz mau kembali ke Ambon, Masya Allah kita mengira pak Ustadz akan lama di sini, kedatangan pak Ustadz di sini kami anggap seperti kejatuhan durian runtuh.” Ini ibarat darinya yang sungguh luar biasa, yaitu suatu peribahasa yang bermakna mendapatkan rizki, keuntungan, atau keberuntungan yang datang tiba-tiba tanpa disangka-sangka dan tanpa perlu bersusah payah. Dan terlihat pada wajahnya sedih saat berpisah, masya Allah ini baru mengenal, maka bagaimana dengan yang sudah lama mengenal yang masih bersih fitrahnya maka tentu akan merindukan dan mengharapkan adanya majlis ilmu.
Dan sedikit kita ingatkan tentang anak-anak, karena kebanyakan anak-anak sekarang terpengaruh dengan HP-an sampai banyak yang kecanduan, maka hendaklah kita sebagai orang tua melakukan pengalihan sedikit demi sedikit.
Baik itu dengan menyediakan aplikasi pembelajaran Islam yang sudah tersedia atau mengikutkan mereka ke dalam kelas online, hingga nanti mereka siap untuk mengikuti pembelajaran ofline. Kita dapati sebagian orang tua sangat keras dan ketat dalam membatasi anak-anak mereka dari menggunakan HP, namun di saat mereka lengah, anak-anak mereka memanfaatkan kesempatan dengan cara mereka sendiri yang orang tua tidak mengetahui. Dalam menggunakan HP, ternyata numpang atau pinjam HP orang lain saat orang tua lalai, di rumah dihalangi saat di luar rumah memanfaatkan kesempatan sampai melampui batas. Keadaan seperti ini, jika orang tua langsung melakukan pengalihan spontan dengan membawanya ke pesantren maka sedikit harapan akan berubah, anak-anak masih akan menggunakan cara-caranya saat di rumah, Ustadz pesantren saat sibuk dengan suatu urusan, maka anak-anak itu akan munculkan cara-cara mereka sebelumnya. Maka ini menjadi tugas bagi setiap orang tua terhadap anak masing-masing:
نسأل الله لنا ولكم التوفيق والسداد والصلاح
“Kita memohon kepada Allah untuk kami dan untuk kalian taufik, kelurusan jalan dan kebaikan.”
وَصَلَّى اللّْهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى إِخْوَانِهِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَومِ الدِّينِ
[Muhammad Al Khidhir pada malam Selasa, 21 Muharram 1448 / 6 Juli 2026 di Bogor].
⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/14414
⛵ https://whatsapp.com/channel/0029Vb15hbQD8SDy7cwy460C/9223372036854675816