KAJIAN PONDOK PESANTREN MAJAALIS ALKHIDHIR TERBUKA UNTUK UMUM
Pertanyaan:
Benarkah Ustâdz Muhammad Al-Khidhir membuka pondok perempuan dan mengajari mereka tanpa hijâb?.
Jawaban:
Alhamdulillâh pondok pesantren kita terbuka untuk umum, yang menginap di asrama hanya para pria. Adapun para wanita yang yang akan hadir atau yang biasa hadir maka ada tempat khusus di Maktabah buat mereka untuk mengikuti kajian, setelah kajian atau setelah mereka menyelesaikan keperluan dengan keluarga maka mereka langsung pulang ke tempat tinggal mereka masing-masing, ini sebagaimana telah dicontohkan di zaman Salaf kita Nabiuttaubah ‘Alaihish Shalâtu was Salâm, para wanita datang ke majlis dan mushallâ beliau setelah itu mereka kembali ke tempat tinggal mereka masing-masing, sebagaimana pula mereka ikut shalat berjamâ’ah seperti itu pula keadaan mereka, berkata ‘Âisyah Radhiyallâhu ‘Anhâ:
لَقَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الْفَجْرَ، فَيَشْهَدُ مَعَهُ نِسَاءٌ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ مُتَلَفِّعَاتٍ فِي مُرُوطِهِنَّ ثُمَّ يَرْجِعْنَ إِلَى بُيُوتِهِنَّ مَا يَعْرِفُهُنَّ أَحَدٌ
“Sungguh benar-benar dahulu Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam shalat Shubuh, maka ikut shalat bersama beliau para wanita mu’minah yang wajah mereka tertutupi kerudung mereka, kemudian mereka kembali ke rumah mereka masing-masing, tidak seorangpun mengetahui mereka.” Riwayat Al-Bukhârî.
Adapun permasalahan mengajari perempuan tanpa hijâb yang pernah diributkan dan terus disebarkan maka dulu itu kita mengisi kekosongan di masjid Al-Kautsar di Bekasi, anak-anak perempuan kampung yang dari dulunya belajar baca Al-Qur’ãn secara terbuka tanpa hijâb, kita mulai pisahkan dan kita buatkan tempat di balik tirai, namun karena masih anak-anak kita biarkan terbuka bagian tirai untuk seorang anak yang akan membaca Al-Qur’ãn secara bergantian, semakin hari semakin bertambah anak-anak dan di antara kakak-kakaknya yang disebut gadis-gadis ikut pula, membuat kita semakin khawatir hingga kita menyampaikan ke keluarga supaya keluarga mengajari mereka di rumah, namun kebetulan keluarga sedang tersibukkan dengan bayi yang baru berusia beberapa hari, tentu tidak mungkin untuk mengajari mereka. Kita ketika itu, benar-benar khawatir dengan fitnah tersebut dan Allâh lebih mengetahui. Alhamdulillâh bertepatan dengan adanya tanah waqaf untuk Majaalis Al-Khidhir maka kita alihkan dengan kesibukkan untuk bekerja di tanah waqaf, setiap hari kita bekerja sehingga tidak ada lagi pembelajaran seperti itu. Di saat diriku sudah sangat sibuk, maka disitulah dimanfaatkan oleh orang-orang yang menginginkan fitnah untuk menyebarkan fitnahnya kepadaku:
اللَّهُمَّ اكْفِنِيهِمْ
“Yâ Allâh cukupkanlah perlindungan kepadaku dari mereka.”
Demikian pula orang-orang yang senang dengan fitnah dan terus membuat fitnah kepada kita, mudah-mudahan Allâh mencukupkan kita dari mereka:
حَسۡبُنَا ٱللَّهُ وَنِعۡمَ ٱلۡوَكِیلُ
“Cukuplah Allâh pelindung bagi kita dan Dia adalah Sebaik-baik pelindung.” [Surat Ãli ‘Imrân: 173].
Dijawab oleh:
Muhammad Al-Khidhir sebelum kajian Mushthalah pada hari Rabu 26 Muharram 1444 / 24 Agustus 2022 di Cipancur Klapanunggal Bogor.