KEUTAMAAN MENEMPUH JALAN UNTUK MENIMBA ILMU
Masyâ Allâh kalian sekarang dengan mudah bisa mendatangi majelis seperti ini, kalian bisa datang dari Bogor dengan menggunakan sepeda motor hanya memerlukan waktu sekitar sejam. Kalau saya dulu jalan kaki dari tempat kost di Jalan Menur ke Ma’had Abû Bakr Ash-Shiddîq di jalan Jojoran Surabaya, saya tidak ingin ketinggalan kajian “Durûsullughah Al-‘Arabiyyah” dan “Amtsilatut Tashrîf” yang disampaikan oleh Al-Ustâdz Hâriadi ‘Afallâhu ‘Annâ wa ‘Anhu di Masjid Abû Bakr Ash-Shiddîq Jojoran Surabaya. Saya berangkat dengan berjalan kaki, mulai dari sekitar jam setengah lima sore, kadang sampai sudah adzân maghrib, dan kadang sampai sebelum adzân maghrib. Saat pulang saya juga jalan kaki, dan pernah Al-Ustâdz Hariadi ‘Afallâhu ‘Annâ wa ‘Anhu mendapati saya di jalan, lalu saya disuruh naik di kendaraan bersama beliau, mendekati lampu merah di perempatan Jalan Manyar saya turun karena saya tidak memakai helm, setiap hari saya berjalan kaki, ini pada kajian malam.
Dan saya tidak ingin pula ketinggalan pada kajian setelah shalat Shubuh, ketika itu Al-Ustâdz Abû ‘Abdirrahmân Zainul ‘Ârifîn ‘Afallâhu ‘Annâ wa ‘Anhu membuka kajian “Tafsîr As-Sa’dî”, saya tidak ingin ketinggalan kajian beliau, saya pun mulai berjalan kaki dari Jalan Menur tempat kost sekitar jam setengah empat fajar, sampai di Ma’had Abû Bakr Ash-Shiddîq terkadang hampir adzân shubuh atau terkadang sudah adzân Shubuh. Ini saya jalani hampir setiap hari, dan tidaklah bisa bagi saya bersemangat seperti itu kecuali karena semata-mata taufîq dari Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ, dan yang membuat saya bersemangat karena saya sangat berharap ingin mendapatkan keutamaan yang disebutkan oleh Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam:
َ وَمَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu padanya maka Allâh akan memudahkan baginya jalan menuju Surga.”
Alhamdulillâh dengan sebab itu, membuahkan banyak manfaat, semoga Alláh merahmati kita, kedua orang tua kita dan guru-guru kita serta orang-orang yang beriman.
Dinukil dari jawaban Al-Ustâdz Abû Ahmad Muhammad Al-Khidhir pada tanya jawab setelah kajian malam Senin 19 Jumâdal Ûlâ 1439 di Kemang Pratama 3 Bekasi.