MELURUSKAN KISAH PERTIKAIAN ANTARA ‘ALÎ DAN MU’ÂWIYAH

Pertanyaan:
Mau tanya tentang sahabat Abû Sufyân, Mu’âwiyah dan Yazîd bin Mu’âwiyah. Sejarah yang benar tentang mereka itu bagaimana?. Terkait proses perebutan kekuasaan setelah kekhalîfahan ‘Alî bin Abî Thâlib sampai berita diracunnya cucu Nabî Al-Hasan dan dibantainya rombongan Al-Husain di Karbala. Apakah semua kisah yang menyedihkan itu hoax yang dibuat-buat oleh pihak Syî’ah?.

Jawaban:
Abû Sufyân dan puteranya Mu’âwiyah termasuk dari Shahabat, yang masuk Islâm pertama adalah Mu’âwiyah, beliau masuk Islâm pada hari ‘Umratul Qadhâ setelah hari Hudaibiyyah dan beliau menampakkan keislâmannya pada hari Fathul Makkah yang bertepatan dengan keislâman ayahnya Abû Sufyân dan saudaranya Yazîd bin Abî Sufyân.
Para zaman kekhalîfahan Abû Bakr Ash-Shiddîq, diangkat Yazîd sebagai panglima dan Mu’âwiyah sebagai jenderalnya, yang keduanya ditugaskan untuk melakukan penaklukkan terhadap Syâm, hingga dapat menaklukkan beberapa negeri di antaranya Beirut. Pada zaman Amîrul Mu’minîn ‘Umar, diangkat Mu’âwiyah menjadi wali kota Ordon kemudian dijadikan sebagai wali kota Damaskus menggantikan saudaranya Yazîd bin Abî Sufyân setelah wafatnya. Pada zaman Amîrul Mu’minîn ‘Utsmân, diangkat Mu’âwiyah menjadi gubernur Syâm dan beliau mengangkat para wali kota dari para pendukungnya. Setelah beliau menaklukkan dan menguasai banyak kota di Syâm termasuk kota Suriah maka semakin dekatlah dengan Konstantinovel, namun tidak dilanjutkan kepada rencana penaklukkan Konstantinovel karena adanya kejadian berupa terbunuhnya Amîrul Mu’minîn ‘Utsmân di Madînah, dengan itu membuat beliau berkeinginan untuk menumpaskan para pembunuh ‘Utsmân, sementara telah ada pembai’âtan terhadap ‘Alî bin Abî Thalíb sebagai khalîfah, dengan itu membuat Mu’âwiyah bersama para pendukungnya di Syâm menahan diri untuk melakukan pembai’atan kepada Amîrul Mu’minîn ‘Alî hingga ditumpaskan para pembunuh ‘Utsmân terlebih dahulu, sementara para pembunuh ‘Utsmân tidak dapat dipastikan. Dari sinilah muncul perselisihan Mu’âwiyah dengan Amîrul Mu’minîn ‘Alî hingga terjadi perang saudara. Tatkala Abû Muslim Al-Khaulânî dan sekelompok orang datang menemui Mu’âwiyah lalu bertanya kepadanya:

أنت تنازع عليا أم أنت مثله؟

“Engkau akan melengserkan ‘Alî ataukah engkau semisal dengannya?”. Maka Mu’âwiyah menjawab:

لا والله، إني لأعلم أنَّه أفضل منِّي وأحقُّ بالأمر منِّي، ولكن ألستم تعلمون أنَّ عثمان قُتِل مظلوماً، وأنا ابن عمِّه، والطالب بدمه

“Tidak demi Allâh, sungguh aku benar-benar mengetahui bahwa ‘Alî lebih utama dariku dan lebih berhak menjadi khalîfah dariku, akan tetapi bukankah kalian telah ketahui bahwa ‘Utsmân dibunuh secara zhâlim, sedangka aku adalah putera pamannya dan aku menuntut penumpasan orang-orang yang menumpahkan darahnya.”

‘Alî bin Abî Thâlib menjabat sebagai Amîrul Mu’mînîn selama 5 tahun 6 bulan, dan berakhirnya menjabat karena beliau dibunuh oleh ‘Abdurrahmân bin Muljam dengan menggunakan pedang yang dioleskan racun. Setelah ‘Alî wafat maka terjadilah pembai’atan kepada Al-Hasan sebagai khalîfah dan beliau pun menjatuhkan hukuman mati atas ‘Abdurrahman bin Muljam.

Al-Hasan bin ‘Alî menjabat sebagai Amîrul Mu’minîn hanya 6 bulan, dan 6 bulan itu sebagai penggenap terhadap masa Khulafâ’ur Râsyidîn, karena beliau teranggap sebagai khalîfah terakhir dari Khulafâ’ Ar-Râsyidîn, berkata Ibnu Katsîr:

والدليل على أنه أحد الخلفاء الراشدين الحديث الخلافة بعدي ثلاثون سنة ثم تكون ملكا وإنما كملت الثلاثون بخلافة الحسن بن علي

“Dalîl atas bahwasanya Al-Hasan adalah salah satu dari Khulafâ’ur Râsyidîn adalah hadîts: “Kekhalîfahan setelahku selama 30 tahun, kemudian menjadi kerajaan.” Sungguh tergenapkan 30 tahun dengan kekhalîfahan Al-Hasan bin ‘Alî.”

Berakhir kekhalîfahan Al-Hasan karena keinginan beliau sendiri untuk melerai perselisihan dan mencegah akan munculnya kembali pertikaian serta perang saudara, karena ketika itu Mu’âwiyah bersama para pendukungnya menginginkan beliau tidak menjadi Amîrul Mu’minîn, beliau pun menyerahkannya kepada Mu’âwiyah dan membai’atnya sebagai bentuk dari mewujudkan perkataan Nabî

Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam tentang dirinya:

إنَّ ابْنِي هذا سَيِّدٌ، ولَعَلَّ اللَّهَ أنْ يُصْلِحَ به بيْنَ فِئَتَيْنِ عَظِيمَتَيْنِ مِنَ المُسْلِمِينَ

“Sungguh cucuku ini adalah sayyid, semoga Allâh mendamaikan di antara dua kelompok besar dari kalangan kaum Muslimîn dengan sebabnya.”
Beliau pun mengakhiri kekhalîfahannya dengan menyerahkan urusannya kepada Mu’âwiyah, dan sebagian ‘Ulamâ’ menyebutkan bahwa beliau mempersyaratkan kepada Mu’âwiyah tentang urusan kekhalîfahan:


 
هو أن يكون الأمر شورى بعد معاوية

“Yaitu keberadaan urusan kekhalîfahan adalah musyawarah setelah Mu’âwiyah”.
Yakni tidak dengan menunjuk atau mewariskan langsung kepada anak-anaknya. Namun apa yang dipersyaratkan ini tidak memiliki riwayat yang shahîh, hanya masyhûr saja penyebutannya oleh sebagian ‘Ulamâ’.
Setelah selesai pembai’atan, Mu’âwiyah memindahkan ibu kota ke Damaskus, dengan sebab itu masyhûrlah bahwa beliau pendiri Daulah Umawiyyah dan beliau adalah raja pertamanya. Ini sebagai bukti jelas tentang perkataan Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam:

الخلافةُ في أمّتي ثلاثونَ سنةً، ثم مُلكٌ بعد ذلكَ

“Kekhalîfahan pada umatku 30 tahun, kemudian kerajaan setelah itu.” Riwayat At-Tirmidzî dari Safînah Maulâ Rasûlillâh ‘Alaihimash Shalâtu was Salâm.

Sebelum Mu’âwiyah wafat, beliau menjadikan puteranya Yazîd sebagai penggantinya, beliau berpandangan sesuai ijtihâdnya bahwa Yazîd memiliki kesanggupan dan berkemampuan untuk menjadi khalîfah.

Adapun tentang kematian Al-Hasan maka telah masyûr bahwa beliau wafat sebabnya karena diracuni, Adz-Dzahabî menyebutkan di dalam “Siyar A’lamin Nubalâ'” perkataan dari Qatâdah:

قال الحسن للحسين: قد سقيت السم غير مرة، ولم أسق مثل هذه، إني لأضع كبدي. فقال: من فعله؟ فأبى أن يخبره

“Berkata Al-Hasan kepada Al-Husain: Sungguh aku telah diminumkan racun bukan hanya sekali, aku belum pernah minum seperti sekarang ini. Sungguh telah rebah hatiku. Al-Husain bertanya: “Siapa yang melakukannya? Beliau enggan untuk memberitahukan kepadanya.”

Kisah yang memiliki periwayatan hanya sampai di sini, namun kemudian muncullah kisah yang masyhûr bahwa yang meracuninya adalah isterinya atas perintah Yazîd bin Mu’âwiyah, dan ini tidak diketahui kebenarannya dan tidak memiliki riwayat yang shahîh menyebutkannya.

Adapun yang membunuh Al-Husain beserta 16 atau 17 orang dari Ahlu Baitnya adalah bala tentara dari Irak yang dipimpin oleh ‘Ubaidillâh bin Ziyâd yang termasuk dari pendukung Yazîd bin Mu’âwiyah, sehingga dituduhlah Yazîd bin Mu’âwiyah sebagai pembunuh Al-Husain, namun disebutkan dalam suatu riwayat bahwa Yazîd bin Mu’âwiyah berkata:

ﻛُﻨْﺖ ﺃَﺭْﺿَﻰ ﻣِﻦْ ﻃَﺎﻋَﺔِ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟْﻌِﺮَﺍﻕِ ﺑِﺪُﻭﻥِ ﻗَﺘْﻞِ ﺍﻟْﺤُﺴَﻴْﻦِ

“Keberadaanku ridhâ terhadap ketaatan penduduk Irak dengan tanpa membunuh Al-Husain”.
Dan Ibnu Katsîr menyebutkan di dalam “Al-Bidâyah wan Nihâyah” bahwa Yazîd bin Mu’âwiyah berkata:

ﻗَﺪْ ﻛُﻨْﺖُ ﺃَﺭْﺿَﻰ ﻣِﻦْ ﻃَﺎﻋَﺘِﻜُﻢْ ﺑِﺪُﻭﻥِ ﻗَﺘْﻞِ ﺍﻟْﺤُﺴَﻴْﻦِ، ﻟَﻌَﻦَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺍﺑْﻦَ ﻣَﺮْﺟَﺎﻧَﺔَ ﻳَﻌْﻨِﻲ ﻋُﺒَﻴْﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑْﻦَ ﺯِﻳَﺎﺩٍ ﺃَﻣَﺎ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪِ ﻟَﻮْ ﺃَﻧِّﻲ ﺻَﺎﺣِﺒُﻪُ ﻟَﻌَﻔَﻮْﺕُ ﻋَﻨْﻪُ، ﻭَﺭَﺣِﻢَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺍﻟْﺤُﺴَﻴْﻦَ

“Sungguh keberadaanku itu ridhâ terhadap ketaatan kalian dengan tanpa membunuh Al-Husain, semoga Allâh melaknat Ibnu Marjanah yakni ‘Ubaidillâh bin Ziyâd, demi Allâh, kalau sesungguhnya aku menyertainya maka tentu aku memaafkan Al-Husain, semoga Allâh merahmati Al-Husain”.

Berkata Syaikhul Islâm Ibnu Taimiyyah tentang Yazîd bin Mu’âwiyah:

ﻟَﻜِﻨَّﻪُ ﻣَﻊَ ﻫَﺬَﺍ ﻟَﻢْ ﻳَﻈْﻬَﺮْ ﻣِﻨْﻪُ ﺇﻧْﻜَﺎﺭُ ﻗَﺘْﻠِﻪِ، ﻭَﺍﻟِﺎﻧْﺘِﺼَﺎﺭُ ﻟَﻪُ، ﻭَﺍﻟْﺄَﺧْﺬُ ﺑِﺜَﺄْﺭِﻩِ: ﻛَﺎﻥَ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﻮَﺍﺟِﺐَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ، ﻓَﺼَﺎﺭَ ﺃَﻫْﻞُ ﺍﻟْﺤَﻖِّ ﻳَﻠُﻮﻣُﻮﻧَﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﺗَﺮْﻛِﻪِ ﻟِﻠْﻮَﺍﺟِﺐِ

“Akan tetapi bersamaan dengan ini, tidaklah nampak darinya pengingkaran terhadap pembunuhan Al-Husain dan tidak pula menolongnya serta tidak pula membalas bunuh orang yang membunuhnya, padahal itu adalah kewajiban baginya, maka orang-orang yang di atas kebenaran mencelanya karena dia meninggalkan kewajibannya sebagai penguasa.”

Ada beberapa kisah dusta yang disebutkan riwayatnya oleh beberapa ‘ulamâ’ Sunnah seperti Ath-Thabrânî di dalam “Târikh”nya dan Ibnu ‘Asâkir di dalam “Târikh Dimasq” yang didatangkan pula oleh Ibnu Katsîr di dalam “Al-Bidâyah wan Nihâyah” tentang dialog Yazîd bin Mu’âwiyah dengan Fâtimah bintu ‘Alî dan Zainab bintu ‘Alî setelah tragedi Karbala. Di antara lafazh yang disebutkan oleh Zainab kepada Yazîd adalah:

مَا جعل اللَّه ذَلِكَ لك إلا أن تخرج من ملتنا، وتدين بغير ديننا

“Allâh tidak menjadikan urusan itu untukmu melainkan supaya kamu keluar dari agama kami dan supaya kamu beragama dengan bukan agama kami.”
Dengan perkataan itu, membuat Yâzid marah lalu berkata pula:

إنما خرج من الدين أبوك وأخوك

“Hanyalah yang keluar dari agama adalah ayahmu dan saudaramu.”
Kisah dalam riwayat tersebut panjang dan termasuk dari riwayat dusta yang disebutkan di dalam “Mîzanul I’tidal”:

فهذا الخبر كذب لا يصح

“Kisah ini adalah dusta, tidak shahîh”.

Dijawab oleh:
Muhammad Al-Khidhir pada malam Kamis, 12 Jumâdal Ãkhirah 1444 di Klapanunggal Bogor.

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/7109