MENCARI KEUTAMAAN KELUAR DAKWAH

Pernah ada orang baik mencarikan pesantren buat anaknya, namun ia inginkan anaknya di pesantren yang ustadznya tidak sibuk keluar. Kita pun menyarankan untuk cari pesantren yang ustadz-ustadznya bergaji, baik itu yang menggajinya para donatur atau pihak pesantren, Insya Allah mereka akan lebih terfokus dan perhatian dengan tugas mereka mengajar. Adapun ustadz yang tidak memiliki gaji maka tentu akan keluar, terkadang keluar untuk jualan ke pasar atau ikut menjadi kuli atau mengantar jemput barang atau menjadi kurir, dan ini akan menjadi kewajibannya karena ia menjadi penanggungjawab terhadap keluarganya, berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

كَفَى بالمَرْءِ إثْمًا أَنْ يَحْبِسَ عَمَّنْ يَمْلِكُ قُوتَهُ

“Cukuplah seseorang dianggap berdosa tatkala dia tidak memberi nafkah orang yang berada dalam tanggungannya.”
Dan kita memandang kalau seseorang mencari ustadz yang tidak keluar, maka ia akan kesulitan mencarinya dan juga itu akan masuk pembatasan ruang, terlebih lagi kalau ustadznya ingin juga mencari keutamaan yang disebutkan oleh Nabiurrahmah ‘Alaihish Shalatu was Salam:

فواللهِ لَأنْ يهديَ اللهُ بكَ رجُلًا واحدًا خيرٌ لكَ مِن أنْ يكونَ لكَ حُمْرُ النَّعَمِ

“Demi Allah, benar-benar Allah memberi hidayah kepada seseorang saja dengan sebabmu itu lebih baik bagimu daripada kamu memiliki onta merah.”
Onta merah saat itu adalah kendaraan mewah yang berharga tinggi, sampai kita pernah katakan: “Andaikan seseorang memberi kita mobil yang paling termahal supaya kita tidak lagi keluar berdakwah maka kita tidak akan menerima mobil tersebut, karena untuk apa mobil mewah kalau tidak digunakan di jalan Allah?!.”
Untuk mencari dan mendapatkan keutamaan yang disebutkan pada hadits tersebut, kita pun upayakan untuk bisa menyempatkan keluar berdakwah, dan kita berniat akan datangi tempat-tempat yang perlu untuk kita datangi, terlebih lagi ketika kita diminta, hingga suatu saat kita diundang oleh suatu komunitas yang berpemahaman tidak boleh memberi infak kepada ustadz yang mengajari mereka, meskipun itu atas nama uang transportasi, bagi mereka tidak boleh. Kita pun tetap datangi, karena niat kita dakwah, saat kita pergi kita naik transportasi umum hingga nyasar, dan balik juga seperti itu, karena sudah berkali-kali nyasar saat pulang, kita pun pesan grab, ternyata pihak grab kaget, karena kejauhan bila di antar ke terminal suatu kota, namun ia tetap mencoba menerima pesan kita. Setelah ketemu, ia pun mengeluh kejauhan pak kyai katanya, walaupun masih sewilayah Jabodetabek akan tetapi ini jauh katanya. Ternyata ia mengeluhkan biayanya mahal sesuai harga di aplikasi, kita katakan kepadanya tidak mengapa, hanya ini solusinya karena keburu malam. Ia pun antar kita sampai ke suatu terminal lalu kita naik motor pulang. Melihat keadaan tersebut, sampai seorang ikhwan yang ikut hadir berani menanyakan ke kita, kalau nanti diminta lagi ke sana masih mau?. Kita jawab: “Jika kita berkesanggupan membayar transportasi maka kita akan tetap ke sana, Alhamdulillah ‘ala kulli hal.”

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/11585
⛵ https://whatsapp.com/channel/0029Vb15hbQD8SDy7cwy460C/531