MENOLONG ATAU MENGABAIKAN?
Di saat kita keluar ke Bekasi pada sepertiga malam terakhir terkadang melihat keaneh-keanehan di jalan. Ahad kemarin melewati dua keanehan memerlukan pertolongan. Memang aneh, dari jauh terlihat lampu di tengah jalan tanjakkan, kalau orang kecelakaan mestinya jatuh ke samping kiri karena miring. Tatkala dekat ternyata sepeda motor terbaring masih nyala lampunya, ada anak muda sedang terpapar, entah kecelakaan, pingsan atau mabuk? Terlihat sangat perlu ditolong, tapi mencurigakan, memang aneh, tidak terlihat ada luka, tidak terlihat pula ada orang di dekatnya? Akhirnya kita milih jalan terus, namun di dalam hati ada pertentangan antara menolong atau mengabaikan khawatir modus. Setelah melalui jalan itu sekitar 2 KM tepatnya di tengah sawah, kita dapati dua anak muda jalan kaki dalam keadaan berselimut sarung, sambil menyapa angkat tangan dan terdengar ucapan salâm, keduanya meminta ikut naik sepeda motor, aneh keduanya bisa ada di tengah sawah. Kita milih abaikan namun di dalam hati ada rasa kasihan yang bertentangan dengan kekhawatiran kalau keduanya memiliki maksud tidak baik. Andaikan saja kita jalan kaki mungkin bisa menyempatkan untuk mengetahui hakekat mereka yang telah kita abaikan dan tanpa menolong mereka, namun karena kita membawa sepeda motor milik dakwah khawatir kita teranggap tidak mampu menjaga amanah, kekhawatiran lagi, Allâhul Musta’ân.
رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذۡنَاۤ إِن نَّسِینَاۤ أَوۡ أَخۡطَأۡنَاۚ
“Wahai Rabb kami, janganlah Engkau menghukum kami jika kami lupa atau kami keliru.”
Disadur dari kajian Ustâdz Abû Ahmad Al-Khidhir Hafizhahullâh.