ORANG TERFITNAH DENGAN DUNIA MENURUT SALAFĪ TEGUHĪ DAN KOKOHĪ
Pertanyaan:
Apa alasan komunitas sebelah tentang dā’ī yang serukan Tauhīd, dibilang jual agama, Ustādz?.
Jawaban:
Istilah menjual agama yang disuarakan oleh Salafī Teguhī itu bukan baru sekarang ini, namun dari sepuluh tahun lebih yang lalu telah disuarakan pula. Di saat salah seorang dari Ustādz mereka yang banyak meluangkan waktunya pengajari mereka dan anak-anak mereka dengan tanpa meminta upah dan bayaran ke mereka, namun sewaktu-waktu ada permintaan ke Ustādz tersebut untuk mengisi kajian di luar, ada pula yang meminta mengisi kajian di rumah tertentu, Ustādz tersebut memenuhi permintaan mereka. Dari situ kemudian muncullah kecurigaan, Ustādz tersebut dikatakan terfitnah dengan dunia dan sampai menyebutnya menjual agama, karena mengharapkan imbalan dari mengajarkan agama. Apa yang diperbuat oleh Ustādz tersebut, lalu dibanding-bandingkan dengan Ustādz Fulan yang ada di tempat lain, yang kata mereka tidak tergiur dengan dunia, tidak menjual agama. Tanpa mereka melihat latar dan keadaan Ustādz Fulan yang memang sudah difasilitasi, hanya mengajar saja setiap bulannya mendapatkan santunan dari pengusaha di tempat mengajarnya. Adapun Ustādz mereka tadi tidak, untuk bisa menafkahi diri atau orang yang di bawah tanggungannya harus usaha atau cari jalan keluar yang lain, sampai kita merasa kasihan mendengarkan keadaannya. Pernah ada seorang pengurus masjid menyampaikan ke kita tentang keadaan Ustādz tersebut, ia menyebutkan bahwa Ustādz tersebut memiliki hutang, walaupun tidak terlalu banyak, tapi Ustādz tersebut merasa terbebani dengan hutangnya hingga memberanikan bertanya ke pengurus masjid yang kebetulan Ustādz bersangkutan juga menjadi salah seorang pengajar di masjid tersebut, adakah zakat mall? Jika ada ia meminta untuk dibayarkan hutangnya. Coba kalau Ustādz tersebut minta ke mereka yang telah mencurigai dirinya, entah apa lagi sebutan yang akan disematkan kepadanya, Wallāhul Musta’ān?!.
Dan apa yang diperbuat oleh Salafī Teguhī itu sama miripnya dengan yang diperbuat oleh Salafī Kokohī, jangankan perlakuan terhadap orang yang di luar komunitas mereka, orang yang masih dalam komunitas mereka saja yang mereka anggap sebagai Ustādz, saat buka donasi atau saat mencantumkan nomor rekening bank untuk penerimaan bantuan buat masjid di pesantrennya yang terbakar itu langsung dicurigai, Subhanallāh, dianggap hizbiyyah, dianggap macam-macam. Padahal donasi bantuan itu murni untuk masjid yang terbakar, bukan untuk Ustādz yang memuat nomor rekeningnya.
Ini padahal Ustādz yang sebelumnya mereka akui Ustādz mereka, lalu bagaimana dengan yang selain dari Ustādz mereka?! Yang masih bersama mereka saja sudah dicurigai dan disuarakan yang macam-macam, lalu bagaimana dengan yang selain bersama mereka?!. Hasbunallāhu wa Ni’mal Wakīl.
Dan nasehat kita buat sebagian Asātīdz yang mendapatkankan perlakuan dari mereka seperti itu untuk sabar dan ihtisāb, sebagaimana kita menasehatkan diri kita sendiri, Nabiurrahmah ‘Alaihish Shalātu was Salām pernah berkata:
رحِمَ اللهُ أخي موسى؛ لقد أُوذِيَ بأكثَرَ مِن هذا فصبَرَ
“Semoga Allāh merahmati saudaraku Mūsā, sungguh beliau benar-benar telah disakiti dengan yang lebih banyak dari ini lalu beliau bersabar.”
Dan Allāh ‘Azza wa Jalla berkata:
وَلَقَدۡ كُذِّبَتۡ رُسُلࣱ مِّن قَبۡلِكَ فَصَبَرُوا۟ عَلَىٰ مَا كُذِّبُوا۟ وَأُوذُوا۟ حَتَّىٰۤ أَتَىٰهُمۡ نَصۡرُنَا
“Dan sungguh benar-benar telah didustakan (pula) para Rasūl sebelummu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan gangguan terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allāh kepada mereka. [Surat Al An’ām: 34].
[Abū Ahmad Al Khidhir, 2 Rabī’ Ats Tsānī 1448 / 14 September 2026 di Bogor].