PELAJARAN DARI DÂRUL HADÎTS YAMAN

Pertanyaan:
Apa yang melatarbelakangi Ustâdz dulu membicarakan pengikut Syaikh ‘Abdurrahman Al-‘Adnî sampai Ustâdz dibilang keras?

Jawaban:
Karena ketidakadanya adab mereka dan ketidakadanya pemuliaan mereka terhadap Syaikh Dâril Hadîts Dammâj, mereka keluaran Dârul Hadîts Dammâj namun menyebarkan kebencian dan banyak membantah Syaikh Yahyâ, lebih parah dari mereka ketika itu sebagian mereka yang masih bertahan di Dammâj tapi ikut membantah dan menyerang Syaikh Dâril Hadîts Dammâj. Mereka memata-matai lalu menyebarkan keluar Dammâj apa yang dilihat dan didapati di Dammâj, sebagian mereka bertanya ke Syaikh-syaikh luar Dammâj tentang sikap dan ucapan Syaikh Dâril Hadîts dengan tujuan untuk menjatuhkannya, bahkan mengadakan serangkaian pembicaraan tertutup hingga kemudian mereka meninggalkan Dammâj.
Apa yang kami saksikan pada Syaikh Dammâj yang dahulu kami belajar kepada beliau kami rasakan sekarang terjadi pada kami, Alhamdulillâh ‘alâ kulli hâl.
Muncul berbagai pertanyaan tentang Afiq: Bukankah mereka masih di lingkungan Ustâdz bahkan banyak shalat di masjid Al-Kautsar, kenapa berani berbicara dan memperlakukan Ustâdz seperti itu? Sampai di antara mereka juga bertanya-tanya waktu Ustâdz ke Bogor untuk buka lokasi pondok itu dengan siapa-siapa kemudian dijadikan berbagai pembicaraan?
Demikian pula di saat Ustâdz kerja atau mau pindahan, mereka yang banyak membuat masalah itu membiarkan dengan alasan tidak mau bantu karena ada hizbiyyîn yang ikut bantu, mereka tidak mau bantu takut terkena syubhat kata mereka.
Kita katakan: Alhamdulillâh kita tidak meminta bantu, yang mau bantu adalah para relawan hanya Allâh yang akan membalas mereka.

Seperti itulah yang kita dapatkan tatkala di Yaman, di saat Dammâj perlu dibantu, sebagian kaum Muslimîn dari berbagai kalangan ikut membantu Dammâj, sebagian mereka bersama pasukan Ahlussunnah menuju Kitâf, maka mereka yang membenci Syaikh Dâril Hadîts Dammâj katakan tidak akan bantu karena ada para hizbiyyîn ikut pasukan ke Kitâf, alasan mereka takut terkena syubhat Haddâdî Surûrî dan berbagai syubhat lainnya. Apa mau mereka? Tatkala Dammâj telah ditaklukkan baru di antara mereka komando jihâd dan sebagian mereka menyalah-nyalahkan Syaikh Dammâj, telah menerlantarkan Dammâj dan lain sebagainya. Sama seperti ucapan orang yang mengatakan bahwa masjid atau ma’had Cianjur terbakar karena ada orang berpenyakit kaum Luth di sana, inipun hanya dugaan tanpa saksi dan pengakuan, hampir saja Ustâdznya akan disalahkan pula.

Adapun apa yang kalian sampaikan tentang Afiq yang membantah dan menulis tentang kita dalam keadaan dia masih di lingkungan kita di Tenggilis ini maka biarlah dia berbuat sekehendaknya, cukup kalian katakan kepadanya:

إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

“Jika kamu tidak mempunyai rasa malu, maka berbuatlah sesukamu.” 

Jangankan orang lain yang belum mengenalnya, kalian saja yang sudah mengenalnya, kita lihat kalian akan menilai bagaimana bantahannya yang dia sebarkan sendiri. Orang akan kagum kepadanya, tapi kalian tahu bagaimana pelajaran yang dia ikuti pada Durûsullughah yang baru awal-awal jilid dua? Belum pelajaran yang lainnya?! Bagaimana pemahamannya? Kalian bisa nilai sekarang di tengah keadaannya dan kesibukannya!.

Ucapannya atas kita kibr dan pensifatan lainnya itu juga akan beresiko atasnya Biiznillâh.

Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir pada hari ‘Idul Adhhâ tanggal 10 Dzulhijjah 1442 / 20 Juli 2021 di Tenggilis Mustikajaya Bekasi.

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/5676