ARTI TEMAN

Pertanyaan:
Apa itu teman? Dan bagaimana caranya kita bisa mencari teman sesuai Manhaj ‘Aqidah Ahlil Islam, Ahlut Tauhid, Ahlul Atsar As-Salafiyyah, Ahlus Sunnah wal Jama’ah?.

Jawaban:
Teman adalah orang yang menemani atau mendampingi, datang dengan banyak istilah, di antaranya kawan dari kata kawwana yaitu membentuk atau menyusun, sesuatu tentu memerlukan yang lain supaya dapat terbentuk dan tersusun. Demikian pula pada kata kawin dari kata kawwin yaitu gabungkanlah, asalnya sesuatu itu bersendirian lalu diperintah untuk digabungkan dengan sesuatu yang lain sehingga terbentuklah menjadi suatu susunan, kalau seorang pria dikawinkan dengan seorang wanita itu dinamai nikah, yang sudah dinikahkan akan menjadi berpasangan, masing-masing pasangan disebut shahib bagi yang lain, seorang suami disebut sebagai shahib bagi isterinya demikan pula seorang isteri, berkata Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَصَـٰحِبَتِهِۦ وَبَنِیهِ

“Isterinya dan anak-anaknya.” [Surat ‘Abasa: 36].
Selain shahib, datang pula dengan istilah khalil, dan ini merupakan teman paling terdekat dan paling baik agama dan taqwanya, oleh karena itu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam katakan:

الرَّجُلُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخْالِلُ

“Seseorang di atas agama temannya, maka hendaklah salah seorang di antara kalian melihat siapa yang dia jadikan sebagai temannya.”
Berkata Allah Subhanahu wa Ta’ala:

ٱلۡأَخِلَّاۤءُ یَوۡمَىِٕذِۭ بَعۡضُهُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ إِلَّا ٱلۡمُتَّقِینَ

“Para teman pada hari itu, sebagian mereka terhadap sebagian yang lain adalah musuh kecuali orang-orang yang bertaqwa.” [Surat Az-Zukhruf: 67].
Selain itu, datang pula makna teman dengan istilah jalis, berkata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ وَكِيرِ الْحَدَّادِ

“Perumpamaan teman yang shalih dan teman yang buruk seperti penjual minyak wangi dan tukang tempa besi.”
Diperjelas dengan perkataan Mutharrif bin ‘Abdillah Rahmatullah ‘Alaina wa ‘Alaih:

وَالْجَلِيسُ الصَّالِحُ خَيْرٌ مِنَ الْوَحْدَةِ؛ وَالْوَحْدَةُ خَيْرٌ مِنْ جَلِيسِ السُّوءِ

“Berteman dengan orang yang shalih itu lebih baik daripada bersendirian dan bersendirian itu lebih baik daripada berteman dengan teman buruk.”
Seorang Tabi’in yaitu ‘Alqamah Rahmatullah ‘Alaina wa ‘Alaih saat berada di Syam dalam keadaan bersendirian, beliau ingin memiliki jalis supaya berteman dengannya, Beliaupun shalat dua raka’at lalu berdoa:

اللَّهمَّ ارزُقْني جليسًا صالحًا 

“Ya Allah, rezkikanlah aku seorang teman yang shalih.”
Setelah itu Allah merezkikannya dengan seorang shahabat Nabi yang mulia yaitu Abud Darda’ Radhiyallahu ‘Anhu.
Apa yang diperbuat oleh ‘Alqamah Rahimahullah wa Radhiya ‘Anhu adalah cara untuk mendapatkan teman yang shalih. Tanpa kita ragukan bahwa orang yang menginginkan teman pasti akan mendapatkan sangat banyak, cukup dia hadir di suatu majlis maka dia akan dapati banyak teman, cukup seseorang ikut grup atau media sosial maka dia akan dapati banyak pertemanan. Namun untuk mendapatkan teman yang shalih itu tidak mudah, tidak semudah membalikan telapak tangan, akan tetapi membutuhkan kepada petunjuk dan taufiq dari Rabbul ‘Alamin, memerlukan kesungguhan dan ketulusan dalam meminta kepada Ar-Razzaq supaya Dia merezkikan teman yang shalih.

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/9790