BERJUANG MELAWAN WAS-WAS

Pertanyaan:
Ustadz, boleh bertanya?.
Kalau kita was-was wudhu, apakah bisa pengaruh ke akidah?. Terutama kena di rukun iman ke enam qadha dan qadar (takdir). Saya sudah tiga tahun sejak ragu wudhu tidak bisa khusu’ dan menikmati ibadah shalat.
Apa obatnya?. Syukran.

Jawaban:
Was-was harus dilawan, jika muncul berupa bisikan atau perasaan bahwa wudhu belum sah atau anggota wudhu belum terkena basuhan air maka hendaklah abaikan, karena itulah was-was. Harus menanamkan rasa yakin bahwa wudhu sudah sempurna atau sudah sah sebagaimana dulu sebelum muncul was-was. Biasanya was-was muncul berawal dari keragu-raguan, seseorang berwudhu atau shalat lalu ragu, apakah tadi sudah melakukan atau belum?. Kalau seseorang mengalami keadaan seperti itu maka hendaklah abaikan keraguan itu, di dalam suatu hadits telah ada bimbingan:

دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيْبُكَ

“Tinggalkan apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu.”
Seseorang harus tanamkan rasa yakin dan menyadari bahwa keraguan itu datang dari syaithan, kalau keraguan itu direspon maka akan melahirkan was-was, dan was-was ini tidak hanya menimpa orang seperti penanya namun terkadang menimpa orang yang berilmu, namun orang berilmu melawannya dan mengabaikannya dengan selalu berlindung kepada Allah ‘Azza wa Jalla dari gangguan syaithan, karena dari syaithanlah was-was muncul, berlindung darinya adalah perkata yang dianjurkan, di saat mulai terasa was-was maka ucapkanlah:

أَعُوذُ بِٱللَّهِ مِنَ ٱلشَّیۡطَـٰنِ ٱلرَّجِیمِ

“Aku berlindung kepada Allah dari syaithan yang terkutuk.”
Dan sering-seringlah membaca Al-Mu’awwidzatain (Surat Al-Falaq dan An-Nas), sewaktu-waktu bacakan ke air yang dicampur dengan madu lalu diminum dan juga rutinkan dzikir pagi dan petang.
Yang terpenting lagi adalah berjuang melawan was-was itu, jangan menuruti setiap was-was muncul, tapi bangunlah amalan atas rasa yakin, bahwa apa yang kamu lakukan sudah sah dan benar sebagaimana dahulu sebelum kamu terkena was-was.
Was-was pada wudhu atau pun shalat akan bisa berpengaruh pada akidah seseorang manakala dia berputus asa, oleh karena itu Nabiullah Israil ‘Alaihish Shalatu was Salam dahulu mengingatkan anak-anaknya untuk tidak berputus atas:

وَلَا تَا۟یۡـَٔسُوا۟ مِن رَّوۡحِ ٱللَّهِۖ إِنَّهُۥ لَا یَا۟یۡـَٔسُ مِن رَّوۡحِ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلۡقَوۡمُ ٱلۡكَـٰفِرُونَ

“Dan jangan kalian berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya tidaklah berputus asa dari rahmat Allah kecuali orang-orang kafir.” [Surat Yusuf: 87].
Orang yang berputus asa dari kesembuhan akibat was-was di antara bentuknya adalah merasa seakan-akan sudah tidak ada obat atau solusi lagi dari ajaran Islam, pada akhirnya mencari solusi dari ajaran agama lain, seperti mengikuti ritual meditasi yang didakwahkan oleh kaum budhis maka ini kekufuran.
Dan kita menasehatkan penanya untuk juga bersabar serta menguatkan kesabaran, dan hendaklah meyakini bahwa itu adalah suatu ujian yang pernah dirasakan oleh umat terdahulu. Di zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ada seorang wanita berkulit hitam, ia terkena penyakit ayan atau epilepsi, yang pastinya ini sangat menghambat dan mengganggu ibadah jika terjadi di saat ibadah, ia ingin sembuh sehingga bisa leluasa sebagaimana umumnya manusia, ia pun meminta kepada Nabiurrahmah ‘Alaihish Shalatu was Salam untuk mendoakan kesembuhan, namun beliau tidak langsung mendoakan kesembuhan akan tetapi beliau katakan kepadanya:

إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الْجَنَّةُ، وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللهَ أَنْ يُعَافِيَكِ

“Jika kamu mau bersabar maka bagimu Surga dan jika kamu ingin aku berdoa kepada Allah untuk menyembuhkanmu.” Ia pun memilih untuk bersabar daripada sembuh.

[Abu Ahmad Al-Khidhir Ghafarallahu Lahu wa Radhiya ‘Anhu (Selasa, 17 Dzulqa’dah 1447 / 5 Mei 2025)].

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/14037
⛵️ https://whatsapp.com/channel/0029Vb15hbQD8SDy7cwy460C/2174