HIKMAH MENCINTAI ORANG MISKÎN

Pertanyaan:
Apa menurut pendapat Ustâdz, kenapa Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam berdoa supaya dirizkikan kecintaan kepada orang-orang miskîn?
Jazâkallâhu khairal Jazâ’.
Jawaban:
Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam berdoa supaya mencintai orang-orang miskin karena mayoritas para pengikut setia beliau adalah dhu’afâ’ yaitu orang-orang faqîr dan miskîn, sebagaimana yang disebutkan oleh Hiraklius kepada Abû Sufyân Radhiyallâhu ‘Anhu:
وَسَأَلْتُكَ أَشْرَافُ النَّاسِ اتَّبَعُوهُ أَمْ ضُعَفَاؤُهُمْ فَذَكَرْتَ أَنَّ ضُعَفَاءَهُمُ اتَّبَعُوهُ، وَهُمْ أَتْبَاعُ الرُّسُل
“Aku bertanya kepadamu: Apakah orang-orang terhormat mereka yang mengikutinya ataukah dhu’afâ’ mereka? Maka kamu sebutkan bahwa dhu’afâ’ mereka yang mengikutinya, mereka itulah pengikut para Rasûl.” Diriwayatkan oleh Al-Bukhârî dari ‘Abdullâh bin ‘Abbâs Radhiyallâhu ‘Anhumâ.
Kemudian agama yang Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam dakwahkan ditolong dan diberi kemenangan karena sebab adanya dhu’afâ’, berkata Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam:
ﻫَﻞْ ﺗُﻨْﺼَﺮُﻭْﻥَ ﻭَﺗُﺮْﺯَﻗُﻮْﻥَ ﺇِﻻَّ ﺑِﻀُﻌَﻔَﺎﺋِﻜُﻢْ
“Tidaklah kalian ditolong dan diberi rizki kecuali karena dengan sebab dhu’afâ’ kalian.” Diriwayatkan oleh Al-Bukhârî dari Muhammad bin Thalhah, dari Thalhah dari Mush’ab bin Sa’d Radhiyallâhu ‘Anhumâ.
Orang yang perhatian kepada orang-orang miskîn tentu memiliki keutamaan yang sangat besar, Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam di dalam Surga sangat dekat dengan orang yang perhatian terhadap anak yatim, beliau berkata:
أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا
“Aku dan seorang penanggung jawab anak yatîm di dalam Surga seperti ini.” Beliau menggandengkan jari telunjuk dan jari tengah beliau. Diriwayatkan oleh Al-Bukhârî dari Sahl bin Sa’d Radhiyallâhu ‘Anhu.
Kita mencintai orang-orang miskîn karena mencintai mereka itu lebih mengantarkan kepada keikhlasan, sebab tidak ada yang bisa kita harapkan dari mereka tentang kehidupan dunia dan perhiasannya kecuali kita hanya mengharapkan keridhaan Allâh dan pahala dari-Nya.
Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra’âh pada tanggal 3 Jumâdil Awwal 1439 di Kemang Pratama Bekasi.