HIKMAH MENGETAHUI KEBAIKAN DAN KEMUNGKARAN

Pertanyaan:
Ustâdz ada sebagian teman yang punya pandangan bahwa kita sebagai thâlibul ‘ilmi tidak perlu membahas tentang masalah yang berkaitan dengan pemerintahan ini, karena masih banyak kitâb ‘ulamâ yang belum kita baca, jadi kita hanya fokus baca kitâb saja. Bagaimana pandangan yang benar?

Jawaban:
Perkara yang berkaitan dengan pemerintah terkhusus di negeri kita, ini sudah terbuka sekali, kebaikan dan kemungkaran pemerintah tersiarkan secara terbuka. Terhadap kebaikannya maka kita syukuri dan kita doakan mudah-mudahan senantiasa dibimbing dan diberi taufik untuk meningkatkan berbagai kebaikan. Adapun terhadap kemungkarannya maka itu mengingatkan kita dengan perkataan dari Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam:

سَتَكُونُ أُمَرَاءُ فَتَعْرِفُونَ وَتُنْكِرُونَ فَمَنْ عَرَفَ بَرِئَ وَمَنْ أَنْكَرَ سَلِمَ وَلَكِنْ مَنْ رَضِيَ وَتَابَعَ

“Akan ada pemerintah-pemerintah yang kalian mengetahui perbuatan mereka dan kalian mengingkari perbuatan mereka, barangsiapa yang mengetahui kemungkaran mereka maka hendaklah dia berlepas diri, barangsiapa mengingkari maka dia selamat. Akan tetapi bagi yang ridhâ dan mengikuti.” Riwayat Muslim (no. 4906) dari Ummu Salamah Radhiyallâhu ‘Anhâ.
Berkata An-Nawawî Rahimahullâh:

ولَكِنَّ الْإِثْمَ وَالْعُقُوبَةَ عَلَى مَنْ رَضِيَ وَتَابَعَ

“Akan tetapi berdosa dan mendapatkan hukuman atas orang yang ridhâ dan mengikuti.”

Atas dasar ini hendaklah seseorang tidak berpura-pura menutup mata atau bermasa bodoh terhadap berbagai kemungkaran yang ada pada pemerintah, mengetahui kemungkarannya supaya tidak ikut meridhai kemungkarannya dan supaya tidak terjatuh bersamanya ke dalam kemungkaran, berkata Hudzaifah Ibnul Yamân Radhiyallâhu ‘Anhumâ:

كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ، وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي

“Dahulu orang-orang bertanya kepada Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam tentang kebaikan dan aku bertanya kepadanya tentang kejelekan karena khawatir akan menimpaku.” Riwayat Al-Bukhârî (no. 3606).

Orang yang bermasa bodoh atau berpura-pura tidak mau tahu terhadap kemungkaran yang ada pada pemerintah hingga mentaati apa saja yang diperintahkan kepadanya, mentaati pada perkara yang tidak dia mampui atau mentaati pada perkara kemungkaran maka ini akan menjadi penyesalan baginya pada hari kiamat:

یَوۡمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمۡ فِی ٱلنَّارِ یَقُولُونَ یَـٰلَیۡتَنَاۤ أَطَعۡنَا ٱللَّهَ وَأَطَعۡنَا ٱلرَّسُولَا۠ ۝ وَقَالُوا۟ رَبَّنَاۤ إِنَّاۤ أَطَعۡنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاۤءَنَا فَأَضَلُّونَا ٱلسَّبِیلَا۠ ۝ رَبَّنَاۤ ءَاتِهِمۡ ضِعۡفَیۡنِ مِنَ ٱلۡعَذَابِ وَٱلۡعَنۡهُمۡ لَعۡنࣰا كَبِیرࣰا

“Pada hari ketika wajah mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata: “Seandainya dahulu kami taat kepada Allâh dan taat kepada Rasûl”. Mereka berkata: “Wahai Rabb kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan yang benar. Wahai Rabb kami, timpakanlah kepada mereka hukuman dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar.” [Surat Al-Ahzâb: 66-68].

Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra’âh pada hari Kamis tanggal 7 Ramadhân 1441 / 30 April 2020 di Maktabah Al-Khidhir Bekasi.