KEUTAMAAN ORANG YANG TELAH DIHAPUS DOSA-DOSANYA

Pertanyaan:
Apabila seorang hamba memohon ampun kepada Allâh terhadap dosa-dosanya, lalu dosa tersebut diampuni atau dihapuskan? Bagaimana kalimat yang tepat ketika seorang hamba ingin memohon ampun, “Yâ Allâh ampunilah aku” atau “Yâ Allâh hapuskanlah dosa dosaku”. Karena saya pernah mendengar dari salah seorang dâ’î, beliau mengatakan: “Dosa itu tidak pernah terhapus walau sudah diampuni, sebagai bukti seorang hamba pernah berbuat kesalahan.”

Jawaban:
Dianjurkan bagi setiap hamba untuk berdoa dengan doa supaya diampuni dosa-dosanya, disunnahkan di dalam rukû’ dan sujûd untuk membaca doa:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي

“Yâ Allâh berilah ampunan kepadaku.” Riwayat Al-Bukhârî dari ‘Âisyah dari Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam.

Dianjurkan pula berdoa dengan doa supaya dihapus dosa-dosanya, di dalam doa iftitah disebutkan dengan lafazh:

اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ

“Yâ Allâh bersihkanlah aku dari dosa-dosaku sebagaimana dibersihkannya pakaian putih dari noda. Yâ Allâh sucikanlah dosa-dosaku dengan air, salju dan es.” Riwayat Al-Bukhârî dari Abû Hurairah dari Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam.

Lebih bagus dan lebih utama lagi kalau berdoa dengan memohon supaya diampuni dan sekaligus dihapus dosa-dosa, di dalam Al-Qur’ãn disebutkan dengan lafazh:

رَّبَّنَاۤ إِنَّنَا سَمِعۡنَا مُنَادِیࣰا یُنَادِی لِلۡإِیمَـٰنِ أَنۡ ءَامِنُوا۟ بِرَبِّكُمۡ فَـَٔامَنَّاۚ رَبَّنَا فَٱغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرۡ عَنَّا سَیِّـَٔاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ ٱلۡأَبۡرَارِ

“Wahai Rabb kami, sesungguhnya kami mendengar seruan yang menyeru kepada iman, yaitu: “Berimanlah kalian kepada Rabb kalian”, maka kami beriman. Wahai Rabb kami, berilah ampunan kepada kami terhadap dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami bersama orang-orang yang banyak berbakti.” [Surat Ãli ‘Imrân: 193].

Seseorang kalau sudah diampuni atau dihapus dosa-dosanya semasa hidupnya di dunia maka di akhirat dia meraih keselamatan dan kebahagiaan, adapun orang yang belum diampuni atau belum dihapus dosa-dosanya maka dia akan dihadapkan dengan dosa-dosanya, berkata Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ:

وَوُضِعَ ٱلۡكِتَـٰبُ فَتَرَى ٱلۡمُجۡرِمِینَ مُشۡفِقِینَ مِمَّا فِیهِ وَیَقُولُونَ یَـٰوَیۡلَتَنَا مَالِ هَـٰذَا ٱلۡكِتَـٰبِ لَا یُغَادِرُ صَغِیرَةࣰ وَلَا كَبِیرَةً إِلَّاۤ أَحۡصَىٰهَاۚ وَوَجَدُوا۟ مَا عَمِلُوا۟ حَاضِرࣰاۗ وَلَا یَظۡلِمُ رَبُّكَ أَحَدࣰا

“Diletakkanlah catatan amalan, lalu kamu akan melihat orang-orang berdosa ketakutan terhadap apa yang tertulis di dalamnya, dan mereka berkata: “Aduhai celaka kami, catatan apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak pula yang besar, melainkan tercatat semuanya, dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada catatannya. Dan Rabbmu tidak menganiaya seorangpun”. [Surat Al-Kahfi: 49].
Disebutkan seperti ini karena dosa-dosa mereka belum diampuni atau belum dihapus.

Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra’âh pada malam Selasa 9 Rabî’ul Awwal 1442 di Dârul Qur’ãn wal Hadîts Bekasi.

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/5011