PENTINGNYA MEMAHAMI BAHASA ARAB

Pertanyaan:
Ustâdz حفظك الله, di Durûsul Lughah pada juz: 2 hal. 147:

لَمْ يَذْهَبْ = مَا ذَهَبَ

Atau dalam istilah nahwu selain huruf jazm dan nafî, لَمْ juga huruf qalb yang membalikkan zaman mudhâri’ (hâl dan istiqbâl) ke dalam zaman mâdhî.
Dengan kaidah di atas apakah boleh makna:

وَلَمْ يَكُ من المشركين (النحل: ۰ ٢ ١)

Bermakna sama dengan:

وما كان من المشركين (النحل : ٣ ٢ ١)

Terlebih:

وَلَمْ يَكُ من المشركين

Ma’thûf ‘alâ khabar إِنَّ:

إِنَّ إِبۡرَ ٰ⁠هِیمَ *كَانَ أُمَّةࣰ قَانِتࣰا لِّلَّهِ حَنِیفࣰا

Yang menggunakan fi’il mâdhî كان atau ada makna lainnya?.

Jawaban:
Boleh keduanya bermakna sama, yaitu peniadaan keberadaan Ibrâhîm ‘Alaihish Shalâtu was Salâm termasuk dari orang-orang musyrik.
Ahlut Tafsîr menerangkan:

ونُفي كونه من المشركين بحرف {لم} لأن {لم} تقلب زمن الفعل المضارع إلى الماضي

“Ditiadakan keberadaannya termasuk dari kalangan orang-orang musyrik dengan menggunkan huruf لم karena huruf لم membalikkan zaman fi’il mudhâri’ ke zaman fi’il mâdhi.”

Mereka juga menerangkan:

فيفيد أن إبراهيم عليه الصلاة والسلام لم يتلبّس بالإشراك قط، فإن إبراهيم عليه الصلاة والسلام لم يشرك بالله منذ صار مميّزاً، وأنه لا يتلبّس بالإشراك أبداً

“Memberikan faîdah bahwa Ibrâhîm ‘Alaihish Shalâtu was Salâm tidaklah terperangkap kepada kesyirikan sama sekali, karena Ibrâhîm ‘Alaihish Shalâtu was Salâm tidak pernah melakukan kesyirikan kepada Allâh sejak masa mumayyiz dan sungguh beliau tidak terjatuh kepada kesyirikan sepanjang masa.”

Dijawab oleh Al Ustadz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullah.

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/7738