TANDA DAN CIRI SEORANG MUSLIM YANG DITERIMA AMAL SHÂLIHNYA

Pertanyaan:
Adakah tanda bagi seorang muslim diterima amal kebaikannya?

Jawaban:
Tanda dan ciri seorang muslim diterima amalan shâlihnya adalah setelah dia melakukan amalan shâlihnya itu dia termotivasi untuk melakukannya lagi, dia bertekad dan berupaya untuk melakukan kembali hingga terus menerus melakukannya. Tidaklah Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam melakukan suatu amal shâlih secara kontinyu kecuali karena amalan shâlih tersebut memang diterima dan dicintai oleh Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ, berkata Nabîuttaubah Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam:

وَإِنَّ أَحَبَّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ مَا دَامَ وَإِنْ قَلَّ

“Sesungguhnya paling dicintai oleh Allâh terhadap berbagai amalan adalah yang kontinyu meskipun sedikit.” Riwayat Al-Bukhârî.

Di antara amalan shâlih yang Ar-Rahmân Subhânahu wa Ta’âlâ dan Nabîurrahmah ‘Alaihish Shalâtu was Salâm selalu menganjurkannya untuk senantiasa melakukannya meskipun sedikit atau sebatas yang dimampui adalah bersedekah. Abû Bakr Ash-Shiddîq Radhiyallâhu ‘Anhu paling sering dan sangat banyak bersedekah, dari sebelum beliau hijrah hingga setelah beliau hijrah, beliau telah mendapatkan ampunan dan jaminan Surga namun beliau tidak pernah merasa cukup dari bersedekah, dan beliau terbiasa bersedekah kepada Misthah bin Utsâtsah yang termasuk dari kerabatnya, tatkala Misthah bin Utsâtsah ini salah dalam bersikap dan keliru pada kejadian ifk hingga ikut berbicara tentang ‘Âisyah Radhiyallâhu ‘Anhum:

قَالَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ وَكَانَ يُنْفِقُ عَلَى مِسْطَحِ بْنِ أُثَاثَةَ لِقَرَابَتِهِ مِنْهُ وَفَقْرِهِ: وَاللَّهِ لاَ أُنْفِقُ عَلَى مِسْطَحٍ شَيْئًا أَبَدًا بَعْدَ الَّذِي قَالَ لِعَائِشَةَ مَا قَالَ. فَأَنْزَلَ اللَّهُ: وَلاَ يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ إِلَى قَوْلِهِ: غَفُورٌ رَحِيمٌ. قَالَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ بَلَى وَاللَّهِ إِنِّي لأُحِبُّ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لِي. فَرَجَعَ إِلَى مِسْطَحٍ النَّفَقَةَ الَّتِي كَانَ يُنْفِقُ عَلَيْهِ وَقَالَ وَاللَّهِ لاَ أَنْزِعُهَا مِنْهُ أَبَدًا

“Berkata Abû Bakr Ash-Shiddîq yang keberadaan beliau selalu memberi nafkah kepada Misthah bin Utsâsah karena hubungan kekerabatan dengannya dan karena kefaqîrannya: “Demi Allâh, aku tidak akan lagi memberi nafkah dengan sesuatu apapun kepada Misthah setelah kejadian ini untuk selama-lamanya setelah dia ikut berkata tentang ‘Âisyah dengan apa yang telah dia katakan. Lalu Allâh menurunkan ayat: “Janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kalian bersumpah bahwa mereka untuk tidak akan memberi nafkah kepada para kerabat mereka, kepada orang-orang yang miskîn dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allâh, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kalian tidak ingin supaya Allâh mengampuni kalian? Dan Allâh adalah Ghafûr (Maha Pengampun) lagi Rahîm (Maha Penyayang).” (An-Nûr: 22). Berkata Abû Bakar: “Tentu, demi Allâh, sesungguhnya aku benar-benar senang untuk Allâh memberikan ampunan kepadaku. Lalu Abû Bakr kembali memberi nafkah kepada Misthah sebagaimana sebelumnya, dan beliau berkata: Demi Allâh, aku tidak akan berhenti memberi nafkah kepadanya untuk selama-lamanya.” Riwayat Al-Bukhârî.

Demikianlah tekad dan upaya Abû Bakr Ash-Shiddîq Radhiyallâhu ‘Anhu untuk senantiasa memberi nafkah dan berinfâq, padahal beliau telah diampuni oleh Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ, beliau adalah orang terbaik setelah Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam pada umat ini, dan beliau telah mendapatkan jaminan untuk masuk Surga. Tekad dan upaya serta senantiasanya bersedekah merupakan bukti kalau sedekah beliau diterima dan dicintai oleh Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ.
Hakekat orang yang diterima dan dicintai oleh Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ terhadap sedekahnya yaitu dia ingin selalu dan terus menerus bersedekah karena itu penyempurna segala kebaikannya, pahalanya dan rasa syukurnya kepada Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ dan kepada sesama manusia. Atas dasar inilah yang membuat orang-orang yang sudah mati ingin sekali kembali ke dunia supaya bersedekah, berkata Allâh ‘Azza wa Jalla:

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ

“Infâqkanlah oleh kalian terhadap sebagian dari apa yang telah Kami rezkikan kepada kalian sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kalian, lalu dia berkata: “Wahai Rabbku, mengapa Engkau tidak menangguhkan kematianku sampai waktu yang dekat, supaya aku dapat bersedekah dan supaya aku termasuk orang-orang yang shâlih.” [Al-Munâfiqûn: 10].

Dengan adanya keutamaan dan kemuliaan bersedekah inilah yang membuat Nabîurrahmah Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam memotivasi umatnya untuk selalu bersedekah meskipun hanya dengan separuh dari sebutir kurma, bahkan sampai beliau memberi keringanan bagi wanita yang sedang menjalani masa ‘iddah untuk keluar bekerja di kebunnya supaya dapat bersedekah dengan hasil pekerjaannya, berkata Jâbir bin ‘Abdillâh Radhiyallâhu ‘Anhumâ:

طُلِّقَتْ خَالَتِي فَأَرَادَتْ أَنْ تَجُدَّ نَخْلَهَا فَزَجَرَهَا رَجُلٌ أَنْ تَخْرُجَ فَأَتَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: بَلَى فَجُدِّي نَخْلَكِ فَإِنَّكِ عَسَى أَنْ تَصَدَّقِي أَوْ تَفْعَلِي مَعْرُوفًا

“Bibiku ditalak, lalu beliau berkeinginan untuk keluar mengurusi kurmanya, lalu seorang laki-laki melarangnya untuk keluar, kemudian beliau mendatangi Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam maka beliau berkata: “Bahkan uruslah pohon kurmamu, semoga dengan itu kamu bisa bersedekah darinya atau kamu berbuat kebaikan.” Riwayat Muslim.

Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra’âh pada malam Jum’at tanggal 28 Syawwâl 1441 / 19 Juni 2020 di Maktabah Al-Khidhir Bekasi.

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/4696