AHLUSSUNNAH TIDAK BERSIKAP LEMAH LEMBUT KEPADA AHLUBID’AH

Tatkala Asy-Syâfi’î Rahimahullâh sakit, maka masuklah Hafsh Al-Fardi untuk menjenguknya, lalu Asy-Syâfi’î berkata kepadanya: “Siapa kamu?.” Dia menjawab: “Saya adalah Hafsh Al-Fardi.” Asy-Syâfi’î berkata kepadanya: “Semoga Allâh tidak menjagamu dan tidak memperhatikanmu sampai kamu bertaubat dari apa yang kamu berada padanya.” Jangan gagal paham bila ‘âlim besar semisal Al-Imâm Asy-Syâfi’î Radhiyallâhu ‘Anhu wa Rahimah bersikap keras terhadap seorang ahli bid’ah …

YANG BELUM SAMPAI HUJJAH, DIHUKUMI SESUAI ZHAHIRNYA DI DUNIA

Pertanyaan:‘Afwân Ustadz, mau tanya apa benar seseorang yang tinggal di pedalaman contohnya di hutan, seseorang jâhil, tidak tahu syari’at Islâm, apakah dia dikasih ‘udzur dan tidak kâfir karena dakwah belum sampai padanya?. Jawaban:Kalau nampak dia berbuat syirik maka dia dihukumi sebagai musyrik, Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ katakan: وَإِنۡ أَحَدࣱ مِّنَ ٱلۡمُشۡرِكِینَ ٱسۡتَجَارَكَ فَأَجِرۡهُ حَتَّىٰ یَسۡمَعَ كَلَـٰمَ ٱللَّهِ ثُمَّ أَبۡلِغۡهُ مَأۡمَنَهُۥۚ …

SYAIKH SALAFIYYÎN TSÂBITÎN MEMBUKTIKAN DIRI SEBAGAI SHAGHÎR MUBTADI’

Pertanyaan:Bagaimana menjawab penolakan yang dilakukan oleh seorang syaikh salafiyyîn tsâbitîn yang bernama Abû Fairûz atas pembagian ‘ulamâ kibâr, bahwasanya itu tidak ada dalîlnya?. Jawaban:Barangkali karena dia tahu dirinya termasuk dari ashâghir (masyâyikh kecil), ditambah lagi keadaannya sebagai mubtadi’ lagi ‘âdzir makanya dia menolak penamaan ‘ulamâ kibâr, Ath-Thabrânî di dalam “Al-Mu’jamul Kabîr” meriwayatkan dari Ibnu Mas’ûd Radhiyallâhu ‘Anhu: لا يَزَالُ النَّاسُ …

SALAFIYYÛN TSÂBITÛN BEDA SAMA HIZBIYYÛN

Penempatan istilah “tsâbit” saja mereka sudah keliru dan salah, bagaimana kemudian mengaku sebagai orang-orang tsâbit atau yang mereka tenarkan sebagai salafiyyûn tsâbitûn?! Kalau tsâbit (kokoh) di atas al-‘udzru bil jahli memang benar merekalah ahlinya, tapi kalau kokoh di atas ‘aqîdah shahîhah maka haihâta haihât.Kalau mereka beralasan kokoh sebagaimana Al-Imâm Ahmad bin Muhammad bin Hanbal Rahimahullâh, maka ketahuilah perkara beliau ketika …

SEBAB TIDAK KUMPUL DENGAN MEREKA, JADI DIPERTANYAKAN KESALAFIYYAHANNYA

Pertanyaan:‘Afwân Ustâdz, ingin sampaikan titipan pertanyaan. Akhî, kenapa Ustâdz Al-Khidhir tidak mau hadir setiap ada daurah kumpul para asâtidzah?.Tambahan pertanyaan, ada yang bilang begini: “Siapa yang tidak mau menghadiri daurah Nasional di Jember tanpa ada udzur berarti dia seorang hizbî.” Apakah dibenarkan kaidah tersebut?. Jawaban:Pengalaman yang kita dapatkan di Yaman saat diminta kumpul dengan seorang syaikh yaitu kita dituntut untuk …

KEBENARAN TIDAK AKAN PERNAH BERUBAH

Pertanyaan: سئل سماحة الشيخ ابن باز رحمه الله: بعض الناس يقول: المعين لا يكفر؟. فأجاب: هذا من الجهل، إذا أتى بمكفر يكفر. “Ditanya Samâhatusy Syaikh Ibnu Bâzz semoga Allâh merahmatinya: Sebagian orang mengatakan: Secara perorang tidak dikâfirkan? Maka beliau menjawab: “Ini termasuk kebodohan, jika dia melakukan terhadap suatu pembatal keislâman maka dikâfirkan.”. Ustâdz, orang-orang pada mempertanyakan tentang referensi fatwâ tersebut?. …

TAWASSUL TERMASUK PERKARA ‘AQÎDAH

Sungguh Abû Yûsuf Isrâîl (yakni Ya’qûb) ‘Alaihimash Shalâtu was Salâm dahulu putera-puteranya memintanya untuk memohonkan ampunan bagi mereka: “Beliau bersabda: Aku akan memohonkan ampun untuk kalian kepada Rabbku, sungguh Dia adalah Al-Ghafûr (Maha Pengampun) lagi Ar-Rahîm (Maha Penyayang).”Padanya penjelasan bahwa tawassul masuk dalam perkara ‘âqîdah, karena orang yang bertawassul meyakini bahwa tawassul memiliki pengaruh terhadap apa yang diinginkannya.Dan pada dalîl …

HUJJAH DI ZAMAN JÂHILIYYAH

Perkataannya: ((Tidaklah ada di antara kalian pada hari ini seorangpun yang berada di atas agama Ibrâhîm ‘Alailhis Salâm selain aku)), menunjukkan atas bahwasanya hujjah telah sampai kepada mereka, bahwasanya mereka di atas agama kekâfiran yaitu agama Jâhiliyah dan tidaklah mereka di atas agama Ibrâhîm ‘Alaihish shalâtu was Salâm. Sungguh Zaid bin ‘Amr bin Nufail semoga Allâh meridhainya mengkafirkan mereka dan …

MURJI’AH GAYA BARU MEMERANGI HIZBIYYAH

Pertanyaan:“‘Abdullâh Jurbû’ sesat dan Muhammad Khidhir Al-Limborî bodoh dan sesat. Hendaknya yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir.”(Ditulis) Abû Zakariyâ ‘Abdurrahmân bin Taufîq.‘Afwân Ustâdz, bagaimana menurut antum dengan status pengajar di pondok Klaten tersebut?. Jawaban:Dia sedang masa-masa tumbuh, jadi seperti itulah keadaannya. Kasihan akan mempermalukan dirinya sendiri kalau dia masih punya rasa malu: إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ …

PARA PEMBAWA API FITNAH JIKA TIDAK DAPATI SESUATU YANG BISA DIBAKAR MAKA MEREKA AKAN SALING MEMBAKAR

Pertanyaan:Ustâdz ‘âfwân, ana melihat fitnah di kalangan RII makin menjadi-jadi sekarang ustâdz, menurut antum siapa di antara mereka di atas kebenaran?. Jawaban:Mereka semua sama, mereka adalah ‘âdzirûn, kalau bukan ‘âdzirûn maka menjadi para pembela ‘âdzirûn dalam memusuhi dan menjuluki Ahli Tauhîd sebagai khawârij, mereka akan barâ’ dari siapa yang menjelaskan hakekat mereka, dan walâ mereka hanya dengan sesama mereka dalam …