ORANG BERBUAT SYIRIK, SAMPAI HUJJAH KEPADANYA ATAU TIDAK MAKA TETAP DINAMAI MUSYRIK

Mereka berempat ini yakni orang yang tuli, orang yang idiot, orang yang pikun dan orang yang mati pada zaman fatrah serta selain mereka dari orang-orang yang hujjah belum sampai kepada mereka maka sungguh mereka akan diuji di padang mahsyar pada hari kiamat, sebagaimana mereka akan diberi pertanyaan di dalam kubur mereka: “Dan Allâh berbuat sesuai dengan apa yang Dia kehendaki.”Adapun …

SHALAT MENCEGAH KESYIRIKAN

Shalat adalah pencegah dari syirik, dahulu orang-orang musyrik dari kaum Syu’aib mengakui bahwa shalat mencegah dari syirik: {Mereka berkata: Wahai Syu’aib, apakah shalatmu yang memerintahkanmu untuk kami meninggalkan apa yang diibadahi oleh orang-orang tua kami atau untuk kami berbuat terhadap harta kami sesuai keinginan kami. Sungguh kamu benar-benar orang yang penyantun dan bijak}.Demikian pula orang-orang musyrik Quraisy berkata kepada Ibnu …

HANYALAH ORANG BODOH YANG MENAMAI PELAKU SYIRIK SEBAGAI MUSLIM

Pertanyaan:Apa akibat bagi seorang Muslim yang dia berpuasa, shalat dan zakat. Akan tetapi dia mengimani terhadap para wâlî yang mereka menamainya di sebagian negeri-negeri Islâm dengan nama “keimanan yang bagus”, bahwa mereka memberi madharat dan memberi manfaat, sebagaimana seseorang berdoa kepada walî ini, dia mengucapkan: Wahai fulân, untukmu ini dan ini jika kamu menyembuhkan anak laki-lakiku atau anak perempuanku.” Atau …

HUKUM BERTAWASSUL KEPADA ALLÂH DENGAN ORANG SHÂLIH YANG SUDAH MATI

Pertanyaan:Apakah tawassul dengan Nabî dan orang-orang shâlih dalam berdoa kepada Allâh termasuk perkara ‘âqîdah yang dapat menjadi sebab keluarnya seseorang dari Islâm?. Jawaban:Perlu dilihat tentang keberadaan tawassul itu sendiri, kalau seseorang bertawassul kepada Allâh dengan Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam di saat beliau masih hidup atau bertawassul kepada Allâh dengan orang-orang shâlih yang mereka masih hidup maka ini adalah boleh, …

TINJAUAN SYARI’AT TENTANG HUKUM NEGARA INDONESIA

Pertanyaan:Bagaimana menanggapi pernyataan Dzulqarnain bin Muhammad Sanusi yang menganggap Indonesia sebagai negara Islâm? Dia juga mengatakan: “Dari sudut syar’î, kepala negara kita, bapak presiden kita Joko Widodo, itu di sudut syar’îat disebut imâm, disebut Amîrul Mu’minîn, bisa disebut amîr, bisa disebut khalîfah. Itu sama pembahasannya. Kalau dibahasakan kita di Indonesia ini tidak di dalam khilâfah, itu orang-orang jâhil tidak mengerti …

TETAP BERBAKTI KEPADA ORANG TUA DENGAN TANPA BERBUAT SYIRIK KEPADA ALLÂH

Pertanyaan:Pak Ustâdz, ane ijin bertanya:Bagaimana cara menyadarkan atau menyikapi ayah ane yang beda keyakinan dan beliau melarang ane untuk mengerjakan shalat dan mengamalkan atau membaca Al-Qur’ãn.Mohon pencerahannya pak Ustâdz. Jawaban:Cara menyadarkannya yaitu kamu tetap berbuat baik kepadanya di kehidupan dunia ini, terus berbakti kepadanya pada perkara kebaikan dan jangan sekali-sekali mentaatinya dalam kesyirikan dan kemaksiatan, berkata Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ: …

KAIDAH MUWÂZANAH

Pertanyaan:Bagaimana dengan kaidah muwâzanah, mohon pencerahannya?. Jawaban:Kaidah muwâzanah yaitu suatu kaidah pengharusan untuk menyebutkan kebaikan-kebaikan orang yang sedang dibantah atau yang ditahdzîr dan tidak boleh menyebutkan kesalahan-kesalahannya saja.Kaidah ini telah dinyatakan oleh Salafî Tsâbitîn dan Salafî RII sebagai kaidah batil dan melunturkan prinsip al-walâ’ wal barâ’, tentu kita menyepakati, hanya saja mereka telah menerapkan kaidah ini, mereka sadari ataupun tidak, …

KONSEKWENSI TIDAK MEMBOLEHKAN MEMUJI ORANG SESAT SECARA MUTLAK

Pertanyaan:Apakah benar Ustâdz Khidhir membolehkan memuji orang sesat, karena orang-orang sebelah meributkan masalah ini?. Jawaban:Kalau mereka memutlakkan ketidakbolehan memuji orang yang sudah dianggap sesat maka konsekwensinya tidak boleh bagi mereka memuji sebagian ‘ulamâ mereka, kalau mereka menganggap Syaikh Al-Albanî sebagai ‘ulamâ mereka maka konsekwensinya mereka tidak boleh memujinya, karena sungguh Samâtusy Syaikh Shâlih Al-Fauzân dan ‘ulamâ selainnya telah menganggapnya termasuk …

SIKAP OBYEKTIF TERHADAP PUJIAN DAN CELAAN

Pertanyaan:Ustâdz, apa sebenarnya hukum memuji orang yang ditahdzîr? Apakah benar kalau orang sudah sesat tidak boleh memujinya dan apabila memujinya maka yang memuji pantas ditahdzîr dan ditinggalkan?. Mohon jawaban serta dalîlnya!. Jawaban:Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam pernah memuji pamannya Abû Thâlib karena termasuk orang yang disegani oleh orang-orang kâfir Quraisy, dan Al-Baihaqî meriwayatkan dari Hisyâm bin ‘Urwah dari ayahnya, bahwa …

TIDAK MESTI MENGHUKUMI TERANG-TERANGAN

Pertanyaan:Bagaimana menjawab syubhât bahwa ‘ulamâ’ kibâr saja hanya menyebutkan kaidah bahwa orang yang tidak mengkâfirkan orang-orang kâfir maka hukumnya dia semisal dengan mereka, tapi ‘ulamâ kibâr tidak melakukan vonis dia kâfir?. Jawaban:‘Ulamâ yang tidak memvonis terang-terangan dengan menyebutkan seseorang kâfir karena di antaranya mempertimbangkan madharat atau mafsadah, dan ini sesuai dengan manhaj Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam dalam menyikapi ‘Abdullâh …